TAK CUKUP DENGAN CINTA | DT AQIQAH Bandung

TAK CUKUP DENGAN CINTA

Daarut-Tauhiid-AQIQAH-dt-aqiqah-bandung-aqiqah-cianjur-aqiqah-sukabumi-aqiqah-bekasi-aqiqah-cikarang-aqiqah-purwakarta-aqiqah-subang-aqiqah-sumedang-aqiqah-tasikmalaya-aqiqah-jogja

Nasihat ‘Ali bin Abi Thalib karramallâhu wajhah tentang anak-anak kita, tentang betapa mereka lahir untuk zaman yang akan datang dan bukan zaman saat kita menepuk dada hari ini, terasa betul bahwa kita harus membangun visi hidup mereka. Harus kita siapkan pendidikan mereka dengan pendidikan yang menghidupkan jiwa, menguatkan tekad, membangkitkan hasrat untuk berbuat baik, dan menempa sikap mental yang unggul untuk menentukan wajah masa depan dunia. Bukan hanya masa depan mereka.

Kita takkan pernah cukup jika hanya mencerdaskan otak mereka. Apalagi jika kita hanya mengisi kepalanya dengan pengetahuan, informasi yang bertumpuk atau data yang tak berguna (data smog , istilah David Shenk). Padahal, sebagian besar yang disajikan oleh stasiun televisi kita adalah kotoran data (data smog) dan bukannya informasi yang bermanfaat.

Pengorbanan para ibu yang harus mengandung selama sembilan bulan disertai dengan beban berat sejak awal kehamilan mulai dari mual, muntah-muntah, punggung sakit, dan seterusnya hingga saat melahirkan, harus kita tebus dengan pendidikan yang sebaik-baiknya. Ini agar setiap anak dapat menjadi pembuka pintu surga yang tinggi. Tak sedikit waktu yang kita habiskan untuk mengantarkan seorang anak agar tampak lucu —sekadar tampak lucu saja—! dan menjadi penghapus penat bagi jiwa yang lelah.

Sesudah pengorbanan selama sembilan bulan, anak-anak itu lahir dalam keadaan yang masih memerlukan tenaga, kesabaran, kasih sayang, dan juga kesehatan. Tidur kita kurang, istirahat tak mencukupi, kesehatan yang kadang ikut terganggu, dan waktu-waktu produktif kita yang tergerogoti, takkan pernah cukup untuk menghargai karunia Allah ‘Azza wa Jalla yang bernama anak ini.
Maka, anak-anak yang terlahir itu harus kita antarkan menuju masa depan untuk memberi bobot kepada bumi dengan kalimat lâ ilâha illallâh. Kalau memang harus sakit, biarlah hari ini kita sakit. Asalkan mereka dapat kita antar ke gerbang masa depan sebagai hamba Allah yang banyak bersujud kepada-Nya. Apa pun yang ada di tangannya, kepada Allah ia abdikan. Kalau ia menggenggam dunia beserta segala isinya, maka di hatinya ada Allah. Ia menjadikan shalatnya, ibadah dan perbuatannya, hidupnya dan matinya untuk Allah Tuhan Seru Sekalian Alam.

Sesungguhnya menolong agama Allah itu tidak sama dengan berceramah ke sana-kemari tentang agama. Tidak setiap yang berdiri di mimbar untuk berbicara tentang kebenaran dîn Al-Islâm yang haqq adalah penolong agama Allah Ta‘âlâ.

Boleh jadi ada yang berbicara tentang agama, tetapi yang ia cari adalah dunia atau nama besar. Bukankah Allah Ta’âlâ sudah mengingatkan,
“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu (Muhammad), dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal dia adalah penantang yang paling keras.” (QS Al-Baqarah [2]: 204).

Keinginan untuk mengantarkan anak-anak agar menjadi manusia sukses, beruntung, dan menjadikan kesuksesannya untuk menolong agama Allah itulah yang menggerakkan kami bapak ibunya memberi nama anak yang keempat Muhammad Nashiruddin An-Nadwi.
Sekadar cerdas saja tidak cukup jika kita ingin mempersiapkan anak-anak itu mampu mengemban amanah pada zamannya. Sekadar cerdas saja tidak cukup jika kita ingin mereka mampu menggenggam dunia di tangannya, dan memenuhi hatinya dengan iman kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sungguh, anak-anak itu lahir untuk zaman yang berbeda dengan zaman kita.
Maka, menjadi orangtua harus berbekal ilmu yang memadai. Sekadar memberi mereka uang dan memasukkan di sekolah unggulan, tak cukup untuk membuat anak-anak itu menjadi manusia unggul. Sebab, sangat banyak hal yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Uang memang bisa membeli tempat tidur yang mewah, tetapi bukan tidur yang lelap. Uang bisa membeli rumah yang lapang, tetapi bukan kelapangan hati untuk tinggal di dalamnya. Uang juga bisa membeli pesawat televisi yang sangat besar untuk menghibur mereka, tetapi bukan kebesaran jiwa untuk memberi dukungan saat mereka terempas.

Betapa banyak anak-anak yang rapuh jiwanya, padahal mereka tinggal di rumah- rumah yang kokoh bangunannya. Mereka mendapatkan apa saja dari orangtuanya, kecuali perhatian, ketulusan, dan kasih sayang. Betapa banyak orangtua yang merasa telah memberi bekal terbaik dengan memasukkan anak- anak di sekolah unggulan. Padahal, yang sesungguhnya terjadi, anak-anak itu sedang dilemahkan jiwanya karena tak pernah menghadapi tantangan, dukungan, dorongan, dan apresiasi yang seimbang. Ibarat ayam, mereka menjadi ayam potong yang mudah patah oleh angin yang berembus.

Agar anak-ana kelak mampu memberi warna bagi zamannya dan bukan diwarnai, mereka harus memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan kukuh. Mereka harus memiliki kekuatan penggerak dalam diri mereka untuk berbuat dan melakukan yang terbaik.

SUMBER : BUKU POSITIVE PARENTING Oleh Mohammad Fauzil Adhim

WA ADmin : bit.ly/InfoPaket-DT-AQIQAH

Instagram DT AQIQAH

Facebook DT AQIQAH

Youtube DT AQIQAH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *