Setiap Orang Bisa Menjadi Orangtua | Daarut Tauhiid Aqiqah

“Setiap Orang Bisa Menjadi Orangtua”

“Setiap Orang Bisa Menjadi Orangtua | daarut tauhiid aqiqah bandung

Setelah menikah dan dikaruniai putra-putri, siapa saja langsung menyandang predikat orang tua. Menjadi orangtua seolah merupakan proses otomatis dan tidak memerlukan pendidikan apapun.
Secara naluri, barangkali setiap orang tahu bahwa tugas terpenting Ayah-Bunda adalah mencintai dan mendidik anak-anak mereka. Ayah-Bunda harus menyediakan rumah yang hangat dan aman, membantu anak mempelajari aturan-aturan hidup (seperti bagaimana harus berbagi dan menghargai orang lain), serta memupuk kepercayaan dan harga diri anak. Ayah-Bunda tidak hanya mencegah anak-anak melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukan, tetapi juga mendorong anak-anak melakukan sesuatu yang harus dilakukan.
Akan tetapi, apakah setiap orangtua tahu bagaimana cara melaksanakan tugas-tugas itu, agar hasilnya sesuai dengan harapan?

Mendidik anak-anak tanpa panduan, buku manual, atau petunjuk pelaksanaan, sudah pasti membuat banyak orangtua seperti meraba-raba dalam gelap. Mereka membesarkan anak dengan cara Trial and Error. Jika anak berperilaku baik, memang sudah sepatutnya begitu. Jika hari ini dia membuat masalah, dicobalah berbagai omelan agar anak mau patuh. Ketika cara itu berhasil, esok cara itu pun diulang. Tapi, Ketika omelan tiba-tiba tidak mempan lagi, memarahi pun dicoba. Dan ketika memarahi tidak cukup lagi, anak semakin membangkang, tangan orangtua pun melayang. Awalnya hanya sentilan pelan, lalu cubitan menyakitkan, dan dengan mudah itu meningkat menjadi tamparan keras. Demikian seterusnya, sehingga cara asuh seperti iu menjadi pola bertahap. Naudzubillah…
Pola ini akan diwariskan kepada generasi selanjutnya dalam bentuk yang sama persis atau justru bertolak belakang. Misalnya, dulu orangtuanya sering mendapatkan hukuman fisik, mungkin nanti akan melakukan hal yang sama terhadap anak-anaknya. Bisa juga pengalaman masa kecil yang tidak enak itu justru melumpuhkan Ayah-Bunda sebagai orangtua, tidak mampu membuat aturan yang jelas dan tegas bagi anak-anak. Kedua kondisi itu jelas sama-sama tidak menguntungkan.

Belum lagi jika pasangan (Ayah-Bunda) mewarisi cara asuh yang berbeda. Kata sepakat sulit dicapai. Misalnya, Ayah terbiasa dengan aturan ketat, sementara Bunda terlalu permisif, timbullah benturan.
Ayah-Bunda tentunya mempunyai pola asuh “warisan” yang nantinya akan diterapkan kepada anak-anaknya kelak yang di anggap sebagai pola asuh benar dan berhasil diterapkan.
Einstein benar ketika berkata, “Kita tidak bisa memecahkan masalah hari ini dengan pemikiran kemarin.” Maka, dalam berbagai bidang kehidupan di dunia ini muncullah paradigma-paradigma baru. Dalam sains dan teknologi, social dan budaya, manajemen dan ekonomi, juga dalam Pendidikan dan pengasuhan anak.

Rasulullah Shallallahu álaihi wasallam pada empat belas abad silam sudah memberikan penghargaan terhadap potensi khusus setiap sahabat. Beliau mencontohkan pendidikan dan pola asuh yang cerdas.
Akan tetapi, dengan semua informasi yang mencerahkan itu, masih banyak diantara kita para orangtua yang tetap berjalan di tempat dan terpaku pada pola pikir lama. Jika jujur kepada diri sendiri dan mengamati sekeliling, kita dapat melihat bahwa pola-pola usang jelas tidak efektif bahkan diam-diam merusak.

Menjadi orangtua cerdas tentu saja bukan hal yang mudah. Yang pertama harus dilakukan adalah menanggalkan pola-pola usang, mempelajari pola-pola baru lalu mempraktikannya dengan penuh kesadaran serta membiasakannya tanpa lelah dan putus asa. Terkadang, hasilnya langsung terlihat dan terasa, tapi sering juga perubahan baru itu terjadi setelah lama berjuang agar tidak tergelincir kembali ke pola lama.
Maka, sebagai orangtua marilah kita terus mencari ilmu dan menjadikan Al-Qurán sera hadist sebagai pedoman dalam mendidik anak-anak kita. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan dalam mengasuh anak-anak kita dan petunjuknya manakala kita menyimpang.

Orangtua biasa, memberi tahu…
Orangtua baik, menjelaskan….
Orangtua bijak, meneladani….
Orangtua cerdas, menginspirasi….

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *