SESUNGGUHNYA SETIAP AMAL BERGANTUNG PADA NIATNYA | DT AQIQAH

SESUNGGUHNYA SETIAP AMAL BERGANTUNG PADA NIATNYA

SESUNGGUHNYA SETIAP AMAL BERGANTUNG PADA NIATNYA, Promo Daarut Tauhiid AQIQAH, dt aqiqah bandung, aqiqah cianjur, aqiqah sukabumi, aqiqah bekasi, aqiqah cikarang, aqiqah purwakarta, aqiqah subang, aqiqah sumedang, aqiqah tasikmalaya, aqiqah jogja,

Jika yang ada di ruang batinmu adalah dunia, maka ketika mengajarkan agama pun, dunia yang sampai pada mereka. Kita ajarkan berdoa pada mereka, tetapi yang mereka harap dari doa itu adalah dunia. Mereka rajin berpuasa Senin dan Kamis, tetapi mereka menahan lapar bukan karena mencintai Sunnah Nabi Saw., melainkan agar hajat- hajatnya pada dunia tercapai dan harapannya terkabul.
Sebaliknya jika yang ada di ruang batinmu adalah harapan pada kehidupan yang kekal di kampung akhirat, insyâ Allâh ke mana pun mereka berjalan, di situlah mereka menghadapkan wajahnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Inilah yang akan mengawal mereka, mengawasi perbuatannya, dan menjaga tindakannya. Dan inilah sebaik-baik pengawasan, sebab ia tidak mempersyaratkan hadirnya kita setiap saat.

Alangkah banyak orangtua yang menggunakan kekuatannya untuk membuat anak tunduk. Sementara, mereka lupa bahwa badan yang kekar ini akan lemah juga, suara yang keras ini akan sayu-sayup juga, dan mata yang selalu awas ini akan kehilangan kekuatannya juga; baik karena anak-anak yang semakin jauh ruang geraknya atau karena mata kita telah dimakan usia.

Mengingat itu semua, maka siapkanlah anak-anak itu untuk hidup di negeri akhirat. Apa pun yang engkau kerjakan, jadikan ia sebagai jalan untuk mempersiapkan mereka menghadap Tuhannya. Kalau di saat dinginnya malam menusuk tulang mereka merepotkan kita, maka ikhlaskanlah kerepotan itu.

Semoga Allah cukupkan kerepotan sampai di situ. Tidak berpanjang-panjang hingga akhirat. Sebab di hari Kiamat, setiap kerepotan tak dapat diselesaikan, kecuali apabila kita mendapat syafaat.

Kalau engkau bangun di tengah malam untuk membuatkan susu untuk anakmu, aduklah ia dengan sungguh-sungguh sambil mengharap agar setiap tetes yang masuk kerongkongannya akan menyuburkan setiap benih kebaikan dan menyingkirkan setiap bisikan yang buruk. Kalau engkau menyuapkan makanan untuknya, maka mohonlah kepada Allah agar setiap makanan yang mengalirkan darah di tubuh mereka akan mengokohkan tulang-tulang mereka, membentuk daging mereka, dan membangkitkan jiwa mereka sebagai penolong-penolong agama Allah. Semoga dengan itu, setiap suapan yang masuk ke mulut mereka akan membangkitkan semangat dan meninggikan martabat. Mereka bersemangat untuk senantiasa menuntut ilmu, menunaikan amanah, dan meninggikan nama Tuhannya, Allah ‘Azza wa Jalla.

Kalau setiap kali ada yang engkau inginkan dari dunia ini, perdengarkanlah kepada mereka pengharapanmu kepada Allah, sehingga mereka akan dapat merasakan sepenuh jiwa bahwa hanya kepada Allah kita meminta.
Sesungguhnya anak-anak yang kuat jiwanya adalah mereka yang yakin kepada janji Tuhannya. Mereka tidak mengiba pada manusia, dan tidak takjub pada nama-nama orang yang disebut dengan penuh pujian. Hari ini, anak-anak kita sedang dilemahkan oleh media. Mereka diajak menakjubi manusia. Padahal manusia yang ditakjubi itu tak kuasa untuk membuat diri mereka sendiri bersinar. Padahal untuk bisa disebut idola, mereka membutuhkan dukungan suara-suara kita.

Ajarkan pada mereka keinginan untuk berbuat bagi agama Allah. Bangkitkan pada diri mereka tujuan hidup yang sangat kuat. Jika dua perkara ini ada pada diri mereka, insyâ Allâh mereka akan tumbuh sebagai orang-orang penuh semangat. Kecerdasan mereka akan melejit; berkembang pesat dan bakatnya akan tumbuh dengan baik. Kalau saya boleh menengok teori kecerdasan majemuk, ada jenis kecerdasan yang apabila berkembang akan merangsang kecerdasan lain untuk berkembang lebih pesat. Nah, jenis kecerdasan yang dapat merangsang jenis-jenis kecerdasan lain itu adalah kecerdasan eksistensial.

Intinya pada kepekaan untuk merasakan, menghayati, dan memahami tujuan hidup di atas pijakan keyakinan terhadap Tuhan.

Tanamkan juga pada diri mereka kesadaran untuk belajar menemukan fardhu kifayah di luar shalat jenazah yang menyangkut kepentingan umat ini. Insyâ Allâh yang demikian ini akan mengasah kepekaannya terhadap tanggung jawab. Setiap saat ia belajar berpikir apa yang bisa dan sebaiknya dikerjakan bagi umat ini, sehingga membuat potensinya terasah dan kreativitasnya berkembang. Insyâ Allâh.

Demikianlah. Setelah Allah berikan dunia kepada kita, maka apa lagikah yang kita harapkan kecuali akhirat?

SUMBER : BUKU POSITIVE PARENTING

Oleh Mohammad Fauzil Adhim

WA ADmin : bit.ly/InfoPaket-DT-AQIQAH

Instagram DT AQIQAH

Facebook DT AQIQAH

Youtube DT AQIQAH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *