SAAT-SAAT MENEGANGKAN SEBAGAI ORANGTUA | DT AQIQAH Bandung

SAAT-SAAT MENEGANGKAN SEBAGAI ORANGTUA

Pernah ribut dengan anak? Kita merasa sudah menasihati, mewanti-wanti, mengingatkan dan menjelaskan berbagai hal tentang apa yang boleh dan apa yang tidak, tetapi anak ternyata masih saja melakukan hal-hal yang tak terduga. Urat saraf kita menegang karena merasa anak membangkang. Atau ada sebagian orangtua yang menangis karena merasa anaknya tak juga mengerti kemauan orangtua. Padahal sudah banyak diingatkan, dimarahi, dan bahkan dihukum. Kita merasa lelah bercampur kesal karena berharap anak sudah mengerti apa yang seharusnya tidak dilakukan.

Lonjakan tekanan emosi ini akan lebih menegangkan lagi, terutama ketika ada tamu datang ke rumah kita, kala sedang berbelanja di toko atau saat kita sedang melakukan perjalanan jauh bersama anak. Semenjak usia 2 tahun, anak sepertinya tahu bahwa dalam situasi-situasi seperti itu, kendali orangtua melemah. Ibu tak akan mengeluarkan teriakannya yang menakutkan, dan para bapak tidak mungkin berdiri mengacungkan tangannya untuk memukul, seheboh apa pun tingkah anak. Mereka tahu, orangtua kerap tak berdaya menghadapi tingkah anak setidaknya selama tamu masih berada di rumah.

Memasuki usia dua tahun anak memang berubah. Para ahli menggambarkan usia ini sampai sekitar usia empat atau lima tahun sebagai the terrible twos (2 tahun yang mengerikan). Anak-anak yang semula selalu menyenangkan, mudah kita atur, selalu membuat kita merasa bahagia karena tingkahnya yang lucu menggemaskan, begitu memasuki usia dua tahun berubah menjadi ketegangan, mulai menunjukkan keakuannya, tak jarang menampakkan “perlawanan” dan mulai ingin mengatur lingkungannya. Usia dua tahun adalah usia-usia paling lucu sekaligus usia yang tak jarang membuat kita sulit tertawa. Di usia ini, anak mulai belajar memengaruhi orang-orang di sekitarnya. Ia ingin diperhatikan dan terutama dilibatkan. Itulah sebabnya, anak bertingkah lebih heboh saat ada tamu.

Setidaknya ada dua hal yang membuat anak lebih bertingkah, yaitu :
1. Anak ingin mendapat perhatian dari tamu. Ia ingin mendapatkan penerimaan dari orang lain. Tingkah anak akan lebih heboh lagi apabila ia merasa di- personanongrata-kan. Merasa tidak dianggap manusia. Ia merasa sudah melakukan yang terbaik; berlari keluar untuk menyambut tamu, berinisiatif untuk menanyakan nama dan alamat, tetapi tamu yang datang menampakkan sikap tidak membutuhkan anak-anak kecil itu.

2. Anak merasa kehilangan perhatian dari orangtua saat tamu datang. Sebelum usia dua tahun, orangtua selalu melibatkan mereka saat menemui tamu, menceritakan tentang anaknya yang lucu dan menggemaskan, menunjukkan kehebatan anaknya dan sekaligus mengajaknyaberdialog di depan tamu. Tetapi, begitu anak memasuki usia tahun, atau beberapa bulan sebelum itu, kita mulai “mengabaikan ia” saat tamu datang. Atas sebab itu, anak bertingkah yang menghebohkan untuk merebut perhatian. Ini tentu saja harus dibedakan dengan perilaku anak yang memang gesit dan meriah. Sebagian anak sangat aktif gerak maupun suaranya. Tak peduli ada tamu atau tidak. Hanya saja, saat ada tamu kita lebih sensitif mendengar teriakan mereka yang mengagetkan.

Sepanjang saya perhatikan, anak-anak cenderung lebih tenang apabila mereka merasa tamu datang tidak hanya membutuhkan orangtua mereka. Anak-anak itu menampakkan perilaku yang lebih kooperatif bila mereka ikut disapa satu atau dua menit sebelum berbicara dengan orangtua. Begitu pun sikap orangtua terhadap anak, turut berpengaruh. Kalau anak-anak saya suruh masuk seketika, begitu ada tamu datang, kerap kali yang terjadi adalah ketegangan yang melelahkan. Saat-saat menemui tamu penuh dengan pergolakan untuk menahan diri agar tidak gusar dengan teriakan anak.

Sebaliknya ketika kita memiliki sedikit waktu untuk berbicara baik-baik dengan mereka, memberi pengertian dengan menceritakan siapa tamu yang datang dan apa keperluannya, anak cenderung lebih bisa menempatkan diri dengan baik. Jarang-seringnya tamu datang, juga memengaruhi dahsyat tidaknya perilaku anak yang menghebohkan. Anak-anak yang di rumahnya sering kedatangan tamu, akan lebih tenang dibandingkan mereka yang jarang menerima tamu. Begitu ada yang datang, bagai musim kemarau disiram hujan, anak-anak itu segera berteriak sangat lantang, bertingkah dengan selepas-lepasnya dan sibuk mencari perhatian. Tingkah anak yang memusingkan itu akan lebih menegangkan lagi jika tamu datang pada saat anak sedang mempunyai permintaan dan tidak dituruti oleh orangtua. Ini merupakan kesempatan yang sangat bagus untuk memaksa orangtua, dan sekaligus ajang melatih kesabaran bagi orangtua dalam menghadapi anak.

Khusus berkait dengan rengekan anak saat tamu datang, ada yang perlu kita perhatikan. Tak jarang orangtua menyerah hanya demi “menjaga nama baik” di depan tamu, padahal dampaknya sangat buruk bagi anak. Kadang orangtua menolak permintaan anak dengan alasan tidak punya uang. Ketika anak merengek dan bahkan menangis, orangtua tetap bersikeras tidak mau membelikan. Tetapi begitu ada tamu datang dan anak menangis dengan meraung-raung, segera saja kita keluarkan uang untuk “membungkam mulutnya”. Anak seketika terdiam, tetapi pada saat yang sama mencatat beberapa pelajaran penting yang berbahaya.

Masya-Allah! Begitu kecil kelihatannya, dan begitu besar akibat yang bisa timbul oleh kata-kata yang salah. Berawal dari hilangnya kesabaran dan keinginan untuk menyelesaikan masalah dengan segera (isti‘jâl), kita dapat menuai akibat yang sangat panjang. Hanya karena kita tidak tahan mendengar tangis anak yang tak begitu lama saat tamu datang, kita bisa menuai air mata yang tak habis-habis. Hanya karena tidak ingin malu di depan tamu atau pengunjung toko dan supermarket yang sebenarnya tidak saling kenal, kita bisa menanggung malu yang lebih besar. Na‘ûdzubillâhi min dzâlik, tsumma na‘ûdzubillâhi min dzâlik. Semoga Allah yang membolak-balikkan hati, membaguskan akhlak anak-anak kita, memelihara iman mereka, dan meneguhkan kepercayaan mereka kepada kita selaku orangtua. Allâhumma âmîn.

Agaknya, ada yang perlu kita benahi kembali dalam hati kita, jiwa kita, ilmu dan pengetahuan kita, serta sikap kita. Sungguh, pada mulut kita terletak surga dan neraka kita. Pada mulut kita pula terletak surga dan neraka anak-anak kita. Maka apakah yang sudah kita lakukan? Semoga Allah ‘Azza wa Jalla membaguskan kita, keluarga kita, orangtua kita, dan keturunan kita seluruhnya. Semoga Allah Ta‘âlâ ampunkan yang salah dan tinggikan apa yang benar dari langkah-langkah kita untuk mempersiapkan anak-anak menjadi penolong agama-Nya. Allâhumma âmîn.

SUMBER : BUKU POSITIVE PARENTING Oleh Mohammad Fauzil Adhim

WA ADmin : bit.ly/InfoPaket-DT-AQIQAH

Instagram DT AQIQAH

Facebook DT AQIQAH

Youtube DT AQIQAH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *