Pondasi-pondasi Dalam Membangun Kehidupan Rumah Tangga yang Bahagia – DT AQIQAH Bandung Daarut Tauhiid

Pondasi-pondasi Dalam Membangun Kehidupan Rumah Tangga yang Bahagia

 

Pertama: Pondasi yang paling penting dalam membangun ke- bahagiaan antara suami istri dan dalam merebut hati suami:

  1.   Kejelasan tentang makna kepemimpinan suami dalam rumah tangga.
  2.   Kejelasan tentang makna mentaati suami, atau bersegera mentaati suami.
  3.   Pengertian niat.
  4.   Ketaatan bersama.

 A. Makna kepemimpinan

Makna kepemimpinan seperti yang dikehendaki oleh Allah adalah kepemimpinan dalam tanggung jawab. Lelaki adalah pe-

mimpin pertama dalam urusan rumah tangga, ia ibarat nakhoda kapal atau panglima dalam rumah tangga.

Hendaklah setiap orang harus memahami perannya. Istri harus memahami perannya dan suami juga harus memahami perannya.

Suami bertanggung jawab untuk menyukseskan mahligai rumah tangganya yang diibaratkan seperti sebuah perusahaan, yang mana kedua belah pihak telah menanamkan modal berharga yaitu hidup mati mereka berdua. Keduanya sama-sama bercita-cita dapat meraup laba yang tertinggi. Sungguh sebuah laba yang mulia, itulah laba maknawi. Yaitu lahirnya generasi anak-anak yang shalih, yang diasuh oleh ayah dan ibu yang berbahagia dan taat kepada Allah. Keluarga muslim yang mampu membangun masya- rakat, kemudian dari situ meraih kesuksesan besar yaitu jannah.

Maka dari itu, hendaklah keduanya melaksanakan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Menunaikan amanah yang telah Allah titipkan kepadanya. Dan hal itu tidak akan terealisasi kecuali dengan melaksanakan apa yang telah kami sebutkan tadi.

 

  B. Masing-masing pihak memahami perannya

Pemimpin harus bertindak sebagai pemimpin, bawahan harus berlaku sebagai bawahan.


Rasulullah  telah bersabda:

“Jika kamu berjumlah tiga orang maka tunjuklah salah seorang menjadi amir (pemimpin).”

Sebuah keluarga harus memiliki pemimpin dan yang dipimpin.

Sebuah pepatah mengatakan: Kapal yang punya dua nakhoda akan tenggelam.

Demikian pula sebuah rumah tangga. Sama seperti sebuah kapal yang para penumpangnya tentu ingin selamat. Harus me- miliki seorang nakhoda, yaitu suami.

C. Jangan lupakan makna kepemimpinan

Bukan berarti perempuan atau istri tidak punya peran sama sekali. Bahkan istri memiliki peran yang lebih besar dan lebih agung. Yaitu mendukung suami dalam setiap keputusan yang telah dibuatnya serta membantunya dan menuntun tangannya kepada kondisi yang aman.

Istrilah yang harus tetap berdiri di samping suami dalam meng- hadapi kondisi-kondisi yang sulit.

 

Istrilah yang harus mendidik anak-anaknya dan  memperhati- kan keadaan mereka. Bahkan istri memiliki tanggung jawab yang lebih besar.

Istrilah yang harus menjadi sumber sakinah dan thuma’ninah bagi suaminya, bahkan istri harus bisa berperan sebagai pakaian bagi suaminya.

Istri harus selalu bermusyawarah dan membantu suami, me- laksanakan pengarahan-pengarahan yang diberikan suami hingga kebaikan dapat dinikmati oleh semua anggota keluarga.

  D. Mentaati suami dan bersegera dalam mentaatinya

Istri yang bijak adalah istri yang dapat mengerti dan memahami kewajiban yang harus dilakukannya. Memahami bahwa mentaati suami merupakan salah satu kewajibannya. Dan bahwa mentaati suami dalam perkara yang bukan maksiat merupakan penyebab ia masuk ke dalam jannah.


Rasulullah  telah bersabda:

“Apabila seorang wanita telah mengerjakan shalat lima waktu, puasa bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, mentaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: “Masuklah jannah dari pintu manapun yang engkau suka.” (Shahih Al-Jami’ Al-Kabir).

  E. Delegasi kaum wanita

Ketahuilah, kewajiban utama seorang istri terhadap suaminya adalah mentaatinya dalam perkara-perkara yang bukan maksiat dan tidak menyeret kepada mudharat. Ketaatan istri ini akan memberikan pengaruh yang amat besar dalam menciptakan suasana keluarga yang harmonis. Dalam hadits tentang kisah delegasi kaum wanita, mereka menyebutkan tentang pahala dan

 

 ghanimah yang diperoleh para lelaki dengan jihad, kemudian me- reka bertanya: “Bagaimana kami dapat memperoleh keutamaan semacam itu?”

Maka Rasulullah bersabda: 

“Sampaikanlah kepada para wanita yang kalian jumpai bahwa mentaati suami dan menunaikan hak-haknya dapat menyamai semua keutamaan itu…” (HR. Al-Bazzar dan Ath-Thabrani).

  F. Kewajiban mentaati bukan berarti menihilkan hakmu

Ketaatan kepada suami bukan berarti menihilkan kepribadian- mu sebagai wanita. Bukan berarti hegemoni kaum lelaki terhadap wanita dan bukan pula berarti kehidupan rumah tangga menjadi ajang pertempuran, penentangan dan membuat keras kepala. Namun merupakan kehidupan yang mana kesantunan menjadi ciri utamanya.

  G. Rebutlah hati suamimu dengan bersegera mentaatinya

Sesungguhnya ketaatan istri kepada suaminya secara ma’ruf dan kecintaannya kepada suaminya bisa mengangkat kedudukan-

nya di sisi Allah dan mendatangkan kebahagiaan dan kete-

nangan baginya. Dan suaminya juga akan mentaatinya dan me-

nuruti keinginannya yang syar’i. Dalam sebuah mutiara-mutiara hikmah disebutkan: “Sebaik-baik istri adalah yang taat, mencintai, bijak, subur lagi penyayang, pendek lisan (tak cerewet) dan mudah diatur.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *