PERSIAPKAN DIRIMU MENGEMBAN AMANAH ALLAH SWT | DT AQIQAH Bandung

PERSIAPKAN DIRIMU MENGEMBAN AMANAH ALLAH SWT

Kalau engkau mempersiapkan dirimu untuk sebuah tanggung jawab besar, maka akan ringan bagimu insyâ Allâh apabila hadir amanah yang lebih kecil. Seorang tentara pilihan yang terlatih untuk menghadapi pasukan musuh, akan ringan baginya apabila mendapat tugas menjaga keamanan kampung. Tetapi, hansip yang disiapkan untuk menjaga keamanan pasar, akan kelabakan apabila kepadanya diembankan tugas mengawal pasukan bersenjata. Bukan menghadapi.

Jika engkau bersiap untuk membesarkan sepuluh anak, maka kalau Allah Ta‘âlâ hanya izinkan bagimu empat atau lima anak, insyâ Allâh tidaklah mereka tumbuh besar kecuali sebagai manusia yang berjiwa besar, berkarakter kuat, dan memiliki mental yang kukuh. Tetapi jika engkau mempersiapkan dirimu untuk mengasuh hanya dua anak saja, maka jangankan empat, dua pun bisa engkau anggap berat.

Sama halnya dengan jenjang pendidikan. Tak ada bedanya ibu yang hanya lulus SMA dengan mereka yang tamat S-3 jika tak ada niat yang sungguh-sungguh untuk menggunakan ilmunya dalam mendidik anak. Sebab sistem di otak kita bekerja sangat selektif dan luar biasa. Jika engkau menganggap mendidik anak tak butuh ilmu, sehingga berada di rumah bersama anak setelah engkau menyelesaikan pendidikan yang tinggi merupakan kesia-siaan, maka seperti itulah yang engkau dapatkan. Ilmu itu tak memberi manfaat bagimu dalam mendidik anak. Ia tidak hidup pada dirimu.
Contoh berikut mungkin tidak relevan dengan perbincangan kita tentang pendidikan seorang ibu. Tetapi, engkau dapat memahami dengan lebih mudah bagaimana otak kita bekerja sangat selektif. Dibandingkan suara gembok yang beradu dengan pintu gerbang rumah kita, suara pesawat jauh lebih keras. Tetapi, tanyakanlah kepada mereka yang tinggal dekat bandara, apakah yang segera membangunkan tidur mereka pada malam hari? Suara pesawat take off yang memekakkan telinga atau derit pintu gerbang? Jangan kaget! Otak kita memang telah mempersiapkan sistem sehingga suara pesawat yang biasa lewat akan kita abaikan begitu saja, sehingga tak terdengar, sementara gemerincing gembok yang terbuka segera membangunkan tidur kita.

Apa artinya? Ada sesuatu pada diri kita. Ia sangat menentukan arti dari setiap kejadian. Ia juga sangat menentukan apakah ilmu kita memberi manfaat atau tidak bagi kehidupan kita dan keluarga kita. Ia adalah intensi. Niat. Niat itulah yang memengaruhi sistem di otak kita dan pada akhirnya memengaruhi diri kita.

Niat bukanlah apa yang kita ucapkan dengan lisan dan dengan mudah kita sesuaikan dengan kebutuhan. Tetapi, niat adalah apa yang menjadi penggerak dasar tindakan kita. Tak ada yang lebih tahu apa yang sungguh-sungguh menjadi niat kita kecuali hati nurani kita. Maka, bertanyalah kepadanya.

Dua anak cukup. Tiga anak lebih dari cukup. Empat anak baik. Lima anak baik sekali. Enam ke atas istimewa. Kalau hari ini engkau memutuskan punya anak cukup dua saja, tidak kurang tidak lebih, bertanyalah kepada dirimu apakah niatmu? Atau dengan ungkapan lain, bangunlah niat yang mulia di dalamnya!

Bukan karena takut repot, karena boleh jadi ketakutan itu yang justru membuat mereka sangat merepotkan. Bukan karena takut miskin, karena boleh jadi kekhawatiran itulah yang membuat kita tidak sanggup mengantarkan mereka pada kesuksesan dan kemuliaan. Padahal mereka yang lebih miskin mampu mengantarkan anaknya ke jenjang pendidikan paling tinggi.

Wallâhu a‘lam bishshawâb. Hanya Allah Yang Menggenggam rahasia segala ilmu. Kepada-Nya kita minta ilmu yang manfaat; untuk kita dan anak-anak kita. Semoga kita semua berjalan dengan hidayah-Nya.

SUMBER : BUKU POSITIVE PARENTING Oleh Mohammad Fauzil Adhim

WA ADmin : bit.ly/InfoPaket-DT-AQIQAH

Instagram DT AQIQAH

Facebook DT AQIQAH

Youtube DT AQIQAH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *