MERUSAK TETAPI DICINTAI | DT AQIQAH Bandung

MERUSAK TETAPI DICINTAI

Sesungguhnya, kemuliaan yang paling tinggi adalah mati dalam mempersaksikan kebenaran agama ini. Mati sebagai syahid. Inilah kematian yang para malaikat akan menyambut dengan penuh kemuliaan. Alangkah sedikit waktu yang diberikan Allah Ta‘âlâ kepada kita untuk menjalani hidup ini. Lebih pendek lagi adalah waktu yang disediakan bagi kita untuk mempersiapkan anak-anak memasuki masa depannya. Masa kanak- kanak tak pernah berulang, meski banyak orang tua yang kekanak-kanakan.

Masa-masa peka untuk mengajarkan kebaikan dan kebenaran kepada anak-anak kita, tak datang dua kali. Tetapi, alangkah banyak yang menggantikan dirinya dengan benda mati. Inilah yang membuat saya tak habis mengerti. Hari ini, saya mendapati para orangtua yang mengeluhkan dampak buruk bagi anaknya atas benda yang tidak bisa menyala kecuali apabila kita bermurah hati memberinya listrik. Mereka marah karena anak-anaknya berubah. Tetapi pada saat yang sama, mereka juga marah apabila penyebab keburukan itu rusak sedikit saja.

Ada logika yang sangat bagus dari para orangtua itu. Anak-anak belum waktunya banyak melihat televisi karena belum mampu menyerap dengan cerdas. Yang harus dikerjakan anak-anak adalah belajar. Sedangkan orangtua, mereka sudah kenyang pengalaman, cukup memiliki kesigapan untuk menyaring mana yang buruk dan mana yang baik, serta memerlukan hiburan setelah seharian (atau setengah hari) bekerja. Tetapi, bagaimana anak-anak dapat belajar melihat televisi seperlunya saja jika orangtua sulit mengalihkan pandangan matanya dari layar kaca itu? Bagaimana mungkin anak-anak tidak lari ke rumah tetangga jika orangtua mematikan pesawat televisi pada saat anak- anak sedang sangat berhasrat melihat, sementara matinya pesawat televisi tidak disertai dengan sikap untuk mematikan televisi di hati para orangtua?

Rasanya sulit dibayangkan anak-anak tidak menunjukkan kegilaan yang besar pada televisi jika televisi dimatikan di rumah, sementara dalam setiap perbincangan, kita menunjukkan antusiasme yang sangat besar terhadap televisi, acara-acara televisi, dan bintang-bintang di televisi. Jadi, mematikan pesawat televisi di rumah harus disertai dengan kesungguhan untuk mematikan televisi di hati kita!!!
Apakah tidak mungkin menghidupkan televisi untuk dinikmati bersama seluruh anggota keluarga jika memang ada tayangan-tayangan yang bergizi untuk jiwa? Bukan tidak mungkin. Hanya yang perlu diperhatikan, syarat terpenting adalah menunjukkan sikap mental “untuk melihat seperlunya saja”. Tidak hanyut di dalamnya. Ini pula syarat agar pendampingan yang dilakukan orangtua saat anak nonton televisi dapat berjalan relatif efektif. Itu pun tidak sepenuhnya menjamin bahwa keputusan mendampingi anak menonton televisi akan benar-benar efektif. Itu sebabnya, harus garis bawahi kata-kata relatif efektif.

Selain sikap mental yang benar, efektif tidaknya kita mendampingi anak nonton televisi juga dipengaruhi oleh sekurangnya dua hal. Pertama, ketepatan waktu mengkomunikasikan komentar agar anak tidak merasa terganggu. Semakin merasa terganggu, anak akan semakin mengingini apa yang ditampilkan ditelevisi. Perhatiannya lebih besar, sehingga pengaruh tayangan akan lebih kuat. Kedua, ketepatan cara menyampaikan. Orangtua harus mengemukakan dengan cara yang bersahabat, akrab dan hangat. Cara ini insyâ Allâh membuat pesan- pesan orangtua lebih membekas pada diri anak, kecuali jika tayangan televisi dikemas dengan cara yang sangat menarik, sehingga benar-benar merebut perhatian anak. Dan pada umumnya, setiap tayangan televisi dikemas dengan cara yang sangat menarik dan begitu mempengaruhi. Ada memang tayangan- tayangan yang cenderung membosankan karena teknik pengambilan gambarnya yang tidak kreatif atau sengaja tidak kreatif dan terkesan monoton. Tayangan ceramah agama, misalnya.

Khusus berkait dengan kapan kita menyela keasyikan anak melihat televisi, ada yang kerap membuat saya sedih, meski hingga hari ini saya dan istri sepakat tidak memelihara televisi di rumah. Saya melihat, kerap kali pada waktu berkumandangnya azan magrib, televisi justru sedang menayangkan film yang sangat menarik buat anak. Mereka sedang benar-benar terlibat secara emosional dengan apa yang dilihatnya. Tetapi justru di puncak keasyikan itu, orangtua merusak keasyikan anak dengan mengajaknya melakukan shalat. Ini membuat anak jengkel, tetapi sepertinya “tidak ada pilihan lain”.
Jika keadaan ini terus menerus terjadi, akibatnya secara psikis bisa muncul apa yang disebut sebagai associative shifting. Anak memiliki asosiasi yang buruk terhadap azan. Pada awalnya anak menganggap azan sebagai gangguan, dan pada gilirannya kelak bisa terjadi asosiasi agama sebagai sumber kejumudan, kekakuan dan keterbelakangan. Na‘ûdzu billâhi min dzâlik.

Itu sebabnya, saya pernah menulis bahwa perilaku kekerasan merupakan dampak paling ringan dan tidak perlu terlalu dirisaukan dari televisi. Inilah dampak paling kecil, tetapi sekaligus paling dirisaukan oleh orangtua, meski banyak dari mereka yang tidak secara serius merisaukan. Pengaruh tayangan kekerasan sangat mudah dilihat dampaknya, dan karena itu insyâ Allâh akan lebih mudah menanganinya. Sejauh pengaruh itu berupa perilaku kekerasan, kita mudah menangkap gejalanya. Tetapi, dampak yang berupa desensitisasi tumpulnya kepekaan kerap kali kita abaikan, atau jangan-jangan kita memang tidak tahu bahwa itu terjadi. Salah satu bentuk desensitisasi adalah hilangnya empati, rasa sedih dan sekurang-kurangnya penilaian buruk terhadap berbagai penderitaan maupun tindak kekejian. Hari ini, kita rasakan, banyak dari kita yang justru menikmati penderitaan dan kejahatan. Kita membicarakannya dengan asyik, seasyik penyiar televisi menyampaikan informasinya. Dan inilah justru bahaya yang sangat besar itu.

Ada lagi yang lebih mengkhawatirkan: eikonoklasme. Kita dan khususnya anak- anak menjadikan televisi sebagai ikon yang harus diikuti setiap perintah dan larangannya. Apa yang menurut televisi baik, itu pula yang kita katakan baik. Seluruh yang kita pelajari dari agama menjadi pengetahuan untuk pembenaran. Sedangkan yang kita hayati dan ikuti setiap hari adalah ucapan para penyiar televisi.
Rasa-rasanya, ada benarnya juga ketika ada yang mengatakan bahwa televisi sekarang ini bukan lagi menjadi The Second God (Tuhan Kedua), melainkan sudah menjadi The First God (Tuhan Pertama). Ia lebih ditaati manusia dari pada Tuhan Yang Maha Menciptakan.
Ayah dan Bunda, mari mulai dari diri kita untuk mengajak anak-anak supaya tidak kecanduan dalam menonton televisi dan kita harus sering berinteraksi dengan anak kita.

SUMBER : BUKU POSITIVE PARENTING Oleh Mohammad Fauzil Adhim

WA ADmin : bit.ly/InfoPaket-DT-AQIQAH

Instagram DT AQIQAH

Facebook DT AQIQAH

Youtube DT AQIQAH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *