MENYUGESTI KEBERHASILAN ANAK | DT AQIQAH Bandung

MENYUGESTI KEBERHASILAN ANAK

Setiap ayah dan ibu haruslah memiliki target. Targetnya adalah keberhasilan putra-putrinya dalam kehidupan ini. Puncak keberhasilan dari keberadaan mereka adalah terealisasinya penghambaan kepada Allah, Tuhan semesta alam sesuai dengan al-Quran dan sunah. Tentu itu bukan berarti melalaikan keberhasilan mereka dalam perkara duniawi.
وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. Al-Baqarah:201)

Islam pertengahan dalam kebutuhan ruh dan jasad. Tidak ada kerahiban (kependetaan) mutlak tidak pula materialistik murni. Pertengahan dalam memenuhi ransum ruh dan jasad bagi manusia. Anak-anak butuh motivasi keberhasilan hingga sampai kepada tujuannya.
Memang terkadang terdapat beberapa kendala, seperti perbedaan kemampuan dan karakteristik setiap anak. Ayah dan ibu hendaknya memperhatikan keadaan ini sehingga nantinya tidak membebani anak-anak dengan sesuatu di luar kemampuan mereka.
Tidak boleh sama sekali membebani anak dengan pekerjaan sulit melebihi kemampuannya yang akan membuatnya gagal. Karena akibatnya ia akan merasa tidak mampu, kecewa, lemah dan menahan diri untuk melanjutkan aktivitasnya, bahkan menghindarinya.
Semestinya setiap ayah dan ibu memberi kebebasan anak untuk bergerak. Mereka butuh berjalan, berlari, berbicara, memanjat, melompat dan itu adalah tabiat anak-anak yang normal. Yang saya maksud banyak bergerak. Merupakan kesalahan mengekang tabiat tersebut. Ini penting sekali dari sisi kesehatan, karena bergerak bermanfaat bagi pertumbuhan fisik, naluri dan memicu kecerdasannya.

Hal Yang Perlu Ayah Dan Ibu Ketahui, Anak Merupakan Penemu Kecil
Anak-anak pada fase pertama suka membongkar pasang barang. Itu menyerupai perangai seorang penemu dalam membongkar dan merangkainya kembali. Hal itu jangan membuat kita menjadi emosi jika mereka membongkar atau merusak sesuatu. Hal itu terjadi karena kita tidak memberi mereka alternatif yang sesuai. Semestinya kita mengarahkan karakteristik tersebut dengan menanamkan kepada mereka hal-hal penting, seperti keterkaitan kepada rumah Allah. Membongkar pasang dapat membuka wawasan nalar dan akal mereka dan menjadikan mereka bersandar pada diri sendiri sewaktu membongkar sesuatu dan memasangnya kembali.

Contoh Praktis Pentingnya Hal Itu Dalam Membangun Kepribadian Anak

Belilah mainan berbentuk masjid. Minta anak untuk menyusunnya. Hal itu akan menanamkan kecintaan kepada rumah Allah dalam jiwa mereka, karena secara naluriah anak-anak mencintai mainan mereka. Itu terjadi dengan cara tidak langsung. Demikian halnya dengan permainan seperti menyusun gambar, teka-teki atau puzzle.

Hal Yang Perlu Ayah Dan Ibu Terapkan Pada Anak Adalah Mencintai, Menerima dan Menghargai
Anak-anak butuh dicintai, diterima oleh kedua orang tua dan guru mereka. Sudah semestinya ia merasakan bahwa dirinya adalah sumber kebahagiaan, pujian, kebanggaan ibu, ayah, keluarga dan pengajarnya. Jika bicara, yang lain diam mendengar pembicaraannya dan memberinya kesempatan luas. Dengan demikian ia akan merasa diterima, dihargai dan terlihat kecintaan kedua orang tuanya padanya.

Contoh Dan Kisah Yang Menunjukkan Pentingnya Cinta, Penerimaan Dan Penghargaan

1) Dari Usamah Ibn Zaid -radiallahu’anhu-, dari Rasulullah
-shalallahu alaihi wasallam- bahwa Nabi membawanya beserta Hasan dan berkata:
“Ya Allah, aku mencintai keduanya, maka cintailah keduanya.”
Atau sebagaimana yang dikatakan Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam-. (Al-Bukhari no.3747. Kitab Fadhail Ashab Nabi. Bab: Nabnaqibul halasan wal Husain)

2) Ibnu Juraij berkata dari Atma:
“Seorang lelaki berbicara kepadaku dan aku diam mendengarkan seolah belum pernah mendengarnya. Padahal aku telah mendengarnya sebelum dia dilahirkan. (Siar a’alam an-Nubala 5/77-78)
Ini pada orang dewasa. Lalu bagaimana dengan anak- anak, tentu lebih lagi.

3) Aisyah -radiallahu’anha- bercerita tentang Fathimah, putri Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam-:
“Jika Fathimah datang kepada Nabi -shalallahu alaihi wasallam-, Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- menyambut dan menciumnya. Demikian pula yang dilakukan Fathimah kepada Nabi -shalallahu alaihi wasallam-. (Siar a’lam an-Nubala 2/18-134)
Aisyah -radiallahu’anha- berkata:

“Kami, istri-istri Nabi -shalallahu alaihi wasallam- berkumpul bersama beliau dan tidak ada seorang pun yang tidak hadir. Kemudian Fathimah datang. Cara berjalannya seperti Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam-. Ketika Rasulullah melihatnya beliau menyambutnya dan berkata: “Selamat datang putriku.” Kemudian mendudukkannya di sampingnya. (Ibid)

Sumber : Buku 30 Langkah Mendidik Anak Agar Mengamalkan Ajaran Agama, Oleh Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi

SUMBER : GenerasiBacaParenting

WA ADmin : bit.ly/InfoPaket-DT-AQIQAH

Instagram DT AQIQAH

Facebook DT AQIQAH

Youtube DT AQIQAH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *