MENUMBUHKAN RASA PERCAYA DIRI PADA ANAK | DT AQIQAH Bandung

MENUMBUHKAN RASA PERCAYA DIRI PADA ANAK

Hari ini banyak orangtua maupun guru yang gelisah bagaimana menjadikan anaknya percaya diri. Islam seakanakan sudah tidak cukup lagi. Padahal, kita yang menjadi penyebabnya. Kita ajarkan anak kita berjilbab agar mereka menjadi orang yang memuliakan syariat Allah semenjak usia mereka masih belia. Tetapi saat berbicara, bukan iman yang kita tanamkan, melainkan keinginan untuk memperoleh tepuk tangan manusia yang kita bangkitkan. Kalau mereka tidak berjilbab, bukan kita ingatkan mereka tentang mahabbatullâh, melainkan biar cantik dilihat orang. Maksud kita baik, tetapi yang kita teriakkan, “Ayo, coba dipakai jilbabnya. Ih, jelek ah kalau nggak pakai jilbab.”

Begitu mereka memakai jilbabnya, segera saja kita memuji, “Nah …, gitu dong. Kalau pakai jilbab kan cakep. Cantik, kan?”

Ah, andaikan saja pujian yang jarang kita berikan pada anak itu lebih mengingatkan mereka kepada Tuhannya, insyâ Allâh akan lain ceritanya anak- anak kita. Tetapi tidak. Kita lebih sering memuji mereka meskipun tampaknya kita lebih sering mencela dengan alasan-alasan yang tidak menghidupkan jiwa. Kalau memang memakai jilbab hanya untuk cantik, bukankah ada jalan lain agar tampil lebih cantik lagi daripada sekadar pakai jilbab?
Sebagaimana cara kita memuji anak saat pakai jilbab, seperti itu pula sering kali kita menganjurkan anak-anak berpakaian yang patut saat ke masjid. Kita suruh mereka pakai pakaian yang bagus biar tidak malu pada teman. Bukan karena Allah ‘Azza wa Jalla sudah berfirman,

“Hai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid. Makan dan minumlah, tetapi janganlah berlebihlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al-A‘râf [7]: 31).

Maka, bukan Bunda salah mengandung kalau anak-anak itu akhirnya memiliki rasa percaya diri yang tanggung. Berbeda sedikit saja dengan temannya, sudah cukup untuk membuat mereka meringkuk di kamar. Tak berani berbaur dengan hati yang mantap. Apalagi menjadi sumber pengaruh yang baik bagi teman- temannya. Padahal mereka dilahirkan untuk zaman yang bukan zaman kita; zaman yang membutuhkan kekuatan jiwa lebih besar. Zaman yang membutuhkan orang-orang dengan percaya diri tinggi, cerdas akalnya, hidup jiwanya, dan jernih hatinya. Mereka inilah yang siap untuk menyambut perintah, “Qum fa andzir. Bangunlah, lalu berilah peringatan.” Perintah-perintah pada masa awal kenabian Rasulullah tercinta, Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Lalu, apakah yang dapat kita lakukan untuk membangkitkan rasa percaya diri mereka? Jika perkataan saat menyuruh mereka mengenakan pakaian yang indah justru bisa menyebabkan mereka kehilangan rasa percaya diri yang kukuh, maka seruan Nabi Saw. saat haji Wada’ adalah penguat jiwa-jiwa yang lemah. Mari kita renungkan kembali tatkala Nabi Saw. mengingatkan:
“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian, sama sucinya dengan hari ini, negeri ini, pada bulan ini. Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya. Tuhan kalian satu. Bapak kalian semuanya Adam dan Adam dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling takwa. Tidak ada kelebihan orang Arab di atas orang asing kecuali karena takwanya. Apakah aku sudah menyampaikan kepada kalian?”

Inilah ajaran yang membuat sahabat-sahabat dengan pakaian kumal tidak malu mendatangi istana para kaisar. Inilah keyakinan yang membuat para salafush- shâlih tidak kelu lidahnya melihat jubah-jubah kebesaran pada sultan. Inilah nasihat yang membuat setiap manusia merasa sederajat, tetapi di saat yang sama membuat mereka senantiasa merendah karena tak ada yang tahu siapa di antara mereka yang paling bertakwa. Sebab, ukuran takwa bukan terletak pada panjangnya jenggot, melainkan pada iman dan amal saleh yang berpijak di atas akidah yang lurus.

Sungguh, saya bermimpi. Saya betul-betul sangat mengingini agar nasihat Nabi Saw. ini diajarkan kepada anak-anak semenjak usia prasekolah. Di SD, TK, dan playgroup, anak-anak perlu belajar. Bukan untuk menjadi hafalan semata, melainkan untuk menjadi kekuatan dalam jiwanya. Kita ajarkan kepada mereka, matannya maupun maknanya.

Demi Allah, mereka inilah yang insyâ Allâh lebih bagus daripada generasi orangtuanya semacam kita. Pada saatnya, biarlah kita menjadi catatan sejarah saja bahwa kita pernah ada. Tugas kita sekarang adalah menyiapkan mereka agar menjadi manusia-manusia yang menegakkan kalimat Allah di muka bumi dengan penuh percaya diri.

SUMBER : BUKU POSITIVE PARENTING Oleh Mohammad Fauzil Adhim

WA ADmin : bit.ly/InfoPaket-DT-AQIQAH

Instagram DT AQIQAH

Facebook DT AQIQAH

Youtube DT AQIQAH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *