MENGENALKAN ALLAH KEPADA ANAK | DT AQIQAH Bandung

MENGENALKAN ALLAH KEPADA ANAK


Kalau anak-anak itu kelak tak menjadikan Tuhannya sebagai tempat meminta dan memohon pertolongan, barangkali kitalah penyebab utamanya. Kitalah yang menjadikan hati anak-anak itu tak dekat dengan Tuhannya. Bukan karena kita tak pernah mengenalkan meskipun barangkali ada yang demikian tetapi karena keliru dalam memperkenalkan Tuhan kepada anak. Kerap kali, anak-anak lebih sering mendengar asma Allah dalam suasana menakutkan.

Mereka mengenal Allah dengan sifat-sifat jalâliyyah-Nya, sementara sifat jamâliyyah-Nya hampir-hampir tak mereka ketahui kecuali namanya saja. Mereka mendengar asma Allah ketika orangtua hendak menghukumnya. Sedangkan saat gembira, yang mereka ketahui adalah boneka Barbie. Maka tak salah kalau kemudian mereka menyebut nama Allah hanya pada saat terjadi musibah yang mengguncang atau saat kematian datang menghampiri orang- orang tersayang. Astaghfirullâhal-‘azhîm .…

Anak-anak kita sering mendengar nama Allah ketika mereka sedang melakukan kesalahan, atau saat kita membelalakkan mata untuk mengeluarkan ancaman. Ketika mereka berbuat “keliru” meski terkadang kekeliruan itu sebenarnya ada pada kita asma Allah terdengar keras di telinga mereka oleh teriakan kita, “Ayo…. Nggak boleh! Dosa!!! Allah nggak suka sama orang yang sering berbuat dosa.”
Atau, saat mereka tak sanggup menghabiskan nasi yang memang terlalu banyak untuk ukuran mereka, kita berteriak, “Eee … nggak boleh begitu. Harus dihabiskan. Kalau nggak dihabiskan, namanya muba …? Muba …? Mubazir!!! Mubazir itu temannya setan. Nanti Allah murka, lho.”

Setiap saat nama Allah yang mereka dengar lebih banyak dalam suasana negatif; suasana yang membuat manusia justru cenderung ingin lari. Padahal kita diperintahkan untuk mendakwahkan agama ini, termasuk kepada anak kita, dengan cara “mudahkanlah dan jangan dipersulit, gembirakanlah dan jangan membuat mereka lari”. Anak tidak merasa dekat dengan Tuhannya jika kesan yang ia rasakan tidak menggembirakan. Sama seperti penggunaan kendaraan bermotor yang cenderung menghindari polisi, bahkan pada saat membutuhkan pertolongan. Mereka “menjauh” karena telanjur memiliki kesan negatif yang tidak menyenangkan. Jika ada pemicu yang cukup, kesan negatif itu dapat menjadi benih-benih penentangan kepada agama; Allah dan rasul-Nya. Na‘ûdzubillâhi min dzâlik.

Rasanya, telah cukup pelajaran yang terbentang di hadapan mata kita. Anak- anak yang dulu paling keras mengumandangkan azan, sekarang sudah ada yang menjadi penentang perintah Tuhan. Anak-anak yang dulu segera berlari menuju tempat wudhu begitu mendengar suara batuk bapaknya di saat magrib, sekarang di antara mereka ada yang berlari meninggalkan agama. Mereka mengganti keyakinannya pada agama dengan kepercayaan yang kuat pada pemikiran manusia, karena mereka tak sanggup merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupan. Sebab, semenjak kecil mereka tak biasa menangkap dan merasakan kasih sayang Allah. Agaknya, ada yang salah pada cara kita memperkenalkan Allah kepada anak. Setiap memulai pekerjaan, apa pun bentuknya, kita ajari mereka mengucap basmalah.

Kita ajari mereka menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tetapi kedua sifat yang harus selalu disebut saat mengawali pekerjaan itu, hampir-hampir tak pernah kita kenalkan kepada mereka (atau jangan-jangan kita sendiri tak mengenalnya?). Sehingga bertentangan apa yang mereka rasakan dengan apa yang mereka ucapkan tentang Tuhannya.

Maka, mari Ayah dan Bunda mulai saat ini kita kenalkan Allah SWT kepada anak kita mengenai sifat Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyanyang. Ajarkanlah anak kita bahwa segala sesuatu itu harus bertujuan untuk mengharap ridho-Nya. Semoga kelak anak-anak kita menjadi hamba-Nya yang bertakwa dan selalu mengerjakan amal-amal shalih. Aamiin yaa robbal ‘alamiin.

SUMBER : BUKU POSITIVE PARENTING Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *