MENELADANI KEBERANIAN ALI BIN ABI THALIB | DT AQIQAH Bandung

MENELADANI KEBERANIAN ALI BIN ABI THALIB


Pernahkah engkau dengar tentang Perang Badar? Inilah perang yang meninggalkan kesan paling mendalam di hati kaum Muslim, khususnya para sahabat yang hidup di masa itu. Mereka yang turut dalam Perang Badar mendapatkan tempat kehormatan yang sangat khusus. Inilah perang yang menunjukkan betapa kekuatan jiwa dalam hal ini iman jauh lebih penting daripada jumlah pasukan yang dapat dihitung dan besarnya kekuatan senjata yang dapat disebut. Inilah perang yang memberi pelajaran berkesan betapa jiwa yang kukuh oleh tegaknya iman sehingga melahirkan pribadi yang penuh percaya diri, jauh lebih berharga daripada banyaknya anggota pasukan yang mahir memainkan senjata.

Mari kita lihat, siapa yang membawa bendera itu. Tak salah lagi, ‘Ali bin Abi Thalib r.a. yang diserahi tugas oleh Nabi Saw. untuk membawa panji-panji di Perang Badar. Anak muda itu, ah … anak muda yang masih amat belia itu, datang ke medan perang dengan berani dan penuh percaya diri. Tak surut langkahnya ke belakang, meski yang dia hadapi adalah panglima perang yang ganas dan beringas. Bersama Hamzah dan Abu ‘Ubaidah, ‘Ali bin Abi Thalib menggetarkan musuh-musuh Allah ‘Azza wa Jalla. Bukan karena banyak pengalaman, melainkan karena kuatnya keyakinan bahwa pertolongan tidak akan pernah jauh karena Allah Rabbul ‘Alamin lebih dekat dari urat lehernya.

Tengok pula ketika lelaki muda belia ini terjun ke Perang Parit. Lihatlah ketika ‘Amr bin Abd-Wudd, Sang Pemberani Quraisy yang sangat terkenal dan ditakuti itu menerjang dan menyerbu parit untuk menantang kaum Muslim. Tak ada orang yang berani menyambut tantangannya selain ‘Ali bin Abi Thalib. Nabi Saw. mengingatkan ‘Ali tentang orang yang sangat berbahaya ini. Tetapi … ‘Ali bin Abi Thalib karramallâhu wajhah tetap kukuh tekadnya untuk menghadapi ‘Amr yang terus menggonggong, menantang, dan memanggilmanggil untuk mengajak berduel.

“Siapa berani bertanding?”
Yang langsung menyambut ajakannya, tulis Ali Audah dalam bukunya yang berjudul Ali bin Abi Thalib (Litera Antar-Nusa, 2003), adalah ‘Ali bin Abi Thalib. Melihat anak muda yang tidak sebanding itu, ‘Amr berkata lagi dengan congkak sekali:
“Oh, kemenakanku? Aku tidak ingin membunuhmu.”
“Tetapi aku ingin membunuh kau,” sahut ‘Ali.

Sebelum itu Nabi Saw. telah memberikan pedangnya yang terkenal, Zulfikar. ‘Ali maju, bertarung dan ‘Amr Sang Pemberani Quraisy itu pun roboh. Pasukan yang dipimpin ‘Amr kocar-kacir. Mereka berlarian. Bahkan kepala ‘Amr pun lari menjauh dari tubuhnya karena terpenggal.

Kisah keberanian ‘Ali bin Abi Thalib r.a. kita cukupkan sampai di sini dulu. Banyak kisah lain yang menunjukkan keberanian menantu Nabi Saw. ini. Di luar itu, kita juga mendapatkan banyak kisah dari para sahabat yang sekali lagi menunjukkan betapa jiwa mereka sangat kukuh, hati mereka begitu tenang, kasih sayangnya berlimpah, dan pribadi mereka penuh percaya diri. Lihatlah itu, siapa yang datang menghadap Kaisar Romawi dengan pakaian lusuh tanpa turun dari kudanya? Siapa lagi kalau bukan generasi awal Islam.

Padahal di masa itu, orang datang dengan merangkak dan bersujud apabila ingin menghadap para pembesar Romawi. Persis seperti kita sekarang ketika menemui para pembesar Amerika, bahkan yang paling rendah sekalipun. Kita merasa tak cukup berharga apabila dasi tidak melilit leher kita. Seakan-akan sudah menjadi modern hanya dengan standing party, sementara hati dan pikiran kita kosong tanpa isi. Tanda-tanda apakah ini, Tuan? Tanda semakin cerdasnya kita, ataukah semakin kosongnya jiwa? Kita didik anak-anak kita untuk menggenggam benda-benda, membanggakannya dan meyakinkan diri sendiri bahwa dengan itu anak-anak akan percaya diri. Padahal yang terjadi justru sebaliknya, semakin menjauhkan mereka dari matangnya jiwa.

Dari kisah di atas, semoga kita bisa meneladani keberanian Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu dan bisa mengajarkan kepada anak-anak kita dengan baik.

SUMBER : BUKU POSITIVE PARENTING Oleh Mohammad Fauzil Adhim

WA ADmin : bit.ly/InfoPaket-DT-AQIQAH

Instagram DT AQIQAH

Facebook DT AQIQAH

Youtube DT AQIQAH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *