MEMBERI ANAK NAMA YANG BAIK | DT AQIQAH Bandung

MEMBERI ANAK NAMA YANG BAIK

Setiap orang tua pasti menghendaki anaknya menjadi anak yang baik akhlaknya. Oleh karena itu orang tua senantiasa memberikan segala sesuatu yang terbaik bagi anaknya, termasuk memberi nama yang baik dan indah untuk anak. Karena sesungguhnya Allah Mahaindah dan menyukai keindahan.
Memberikan nama yang baik kepada anak merupakan salah satu kewajiban orang tua. Hal itu juga merupakan salah satu hal yang dianjurkan dalam mnyambut kelahiran bayi. Orang tua perlu menyiapkan dan memberikan nama yang baik bagi anaknya. Memberi nama tentu tidak asal. Sebab, nama tersebut akan melekat dan menjadi identitas anak untuk selamanya.
Nama memiliki pengaruh penting dalam membangun kepribadian, cara hidup, bahkan lingkungan. Ketika Nabi -shalallahu alaihi wasallam- tiba di Kota Madinah, kota Madinah masih bernama Yatsrib. Beliau menggantinya dengan nama Thoibah atau Madinah. Keduanya menunjukkan makna nama yang baik. Nama yang baik itu sendiri pada dasarnya menjadi sumber pengharapan yang baik. Karena itu, sudah seharusnya kedua orang tua memilih nama yang baik, hingga menjadi penginspirasi kebaikan bagi anak.
Nama terbaik yang bisa diberikan pada anak agar kelak menjadi orang yang saleh adalah nama-nama orang saleh dari kalangan muslimin. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari hadist Mughiroh bin Syu’bah dari Nabi Muhammad SAW.
Beliau bersabda,”Sesungguhnya, mereka memberikan nama (pada anak-anak mereka dengan nama-nama para nabi dan orang-orang shalih.” (HR Muslim)
Nama terbaik yang disukai Allah SWT, selain nama yang disebutkan di atas adalah nama-nama penghambaan kepada Allah SWT dengan nama-nama yang indah atau Asmaul Husna.
Contoh Praktis Dan Kisah-Kisah Pentingnya Memilih Nama Dalam Membangun Kepribadian Anak

a. Sisi positif nama baik.

Abdurrahman Ibn Auf berkata:
“Dahulu namaku Abdu Amr (artinya budak Amr). Ketika memeluk Islam Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam-
menamaiku Abdurrahman (artinya hamba Allah Yang Maha Pengasih). (Siar a’lam an-Nubala I/74)
Diriwayatkan bahwa Abdurrahman menjual tanahnya. Hasilnya dibagikan kepada orang fakir dari bani Zahroh, Muhajirin dan Ummul Mukminin (istri-istri Nabi). Al- Musawar berkata:
‘Aku mendatangi Aisyah untuk menyerahkan pemberian itu.’
Aisyah -radiallahu’anha- bertanya:
‘Siapa yang mengirimkan ini?’ ‘Abdurrahman Ibn Auf.’ Jawabku. Aisyah -radiallahu’anha- berkata:
‘Aku mendengar Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda:
‘Tidaklah berempati kepada kalian setelahku selain Sôbirun
(para penyabar).’
Nama Abdurrahman diserap dari kata [ar-rahman] yang diambil dari sifat kasih. Nabi -shalallahu alaihi wasallam-
mendapati pada diri lelaki ini sifat kasih dan sayang sehingga beliau menamainya Abdurrahman.

B. Sisi yang sejalan dengan nama yang tidak baik.

Diriwayatkan oleh Ibnu al-Musayyib dari ayahnya, bahwa ayahnya datang kepada Nabi -shalallahu alaihi wasallam-. Nabi menanyakan namanya:
“Siapa namamu?”
“Huzn (=sedih).” Jawabnya.
“Engkau Sahl (=mudah).” Timpal Nabi.
“Aku tak dapat merubah nama yang telah diberikan oleh ayahku.” Tolaknya.
Ibnu al-Musayyib berkata:
‘Kesedihan itu senantiasa merundung kami setelahnya.” (Al-Bukhari, kitab: al-Adab bab: Ismul Huzn juz. 10 no. 6190)
Ad-Dawudi berkata:
“Maksud Sa’id Ibn Musayyib adalah kesedihan akan sulitnya merubah tabiat akhlak mereka. Dalam hal ini Sa’id membawakannya kepada hal yang memicu kemurkaan Allah.”
Yang lain berkata:
“Ibn Musayyib mengisyaratkan akan kejumudan yang masih tersisa pada akhlak mereka.”

Demikianlah. Ketika kita ingin anak keturunan kita baik, hendaknya kita melakukan tahap kedua, yaitu memilih nama-nama yang baik, karena ia mempengaruhi kepribadian anak seperti yang kita dapati pada contoh di atas.

Sumber : Buku 30 Langkah Mendidik Anak Agar Mengamalkan Ajaran Agama, Oleh Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi

 

SUMBER : GenerasiBacaParenting

WA ADmin : bit.ly/InfoPaket-DT-AQIQAH

Instagram DT AQIQAH

Facebook DT AQIQAH

Youtube DT AQIQAH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *