MEMBANGUN KARAKTER ANAK | DT AQIQAH Bandung

MEMBANGUN KARAKTER ANAK

Tak ada yang bisa kita lakukan dengan kecerdasan kita kalau jiwa yang menjadi tempat berkembangnya amat rapuh. Bukan cemerlangnya otak yang menjadikan orang-orang besar memberi warna pada sejarah. Bukan cepatnya berpikir pula yang menjadikan sebagian negeri lebih disegani daripada negeri-negeri lain. Pada bangsa-bangsa yang amat disegani itu boleh jadi otak milik anak-anak mereka tak secemerlang anak-anak kita. Akan tetapi, mereka memiliki karakter yang kuat. Sangat kuat. Begitu kuatnya karakter mereka sebagai pribadi dan sebagai bangsa sehingga mereka sigap menentukan sikap. Tidak gamang. Tidak ragu-ragu. Tidak pula gemetar saat menjatuhkan sikap.

Anak-anak yang sangat berpengaruh pada teman-teman sepermainan yang sebaya atau bahkan yang lebih tua usianya, kerap kali bukan ditentukan oleh kecerdasan intelektualnya, melainkan oleh seberapa kuat karakter membentuk dirinya. Tak peduli karakter itu baik atau buruk. Kalau karakternya yang menonjol sangat baik, maka anak-anak di sekelilingnya akan cenderung terbawa. Yang semula buruk, berkurang keburukannya dan berangsur-angsur menjadi baik. Sementara yang telah baik, akan berjalan seiring dan berlomba untuk semakin baik.

Karakter yang kuat dibentuk oleh penanaman nilai yang menekankan tentang baik dan buruk. Nilai ini dibangun melalui penghayatan dan pengalaman, membangkitkan rasa ingin dan jijik yang sangat kuat, dan bukan menyibukkan diri dengan pengetahuan. Kita pernah belajar bagaimana Pendidikan Moral Pancasila adalah nyanyian tentang memberikan kursi untuk ibu hamil di saat kita mendapat tempat duduk. Tetapi bukan proses penghayatan. Ia sekadar hafalan dan pengetahuan. Padahal pengetahuan hampir-hampir tidak memberi pengaruh pada perilaku jika pengetahuan itu tidak sejalan dengan sikap kita. Pengetahuan yang tidak diyakini dan dihayati dengan sungguh-sungguh tidak menghalangi seorang dokter spesialis penyakit-dalam meninggal karena penyakit-dalam disebabkan terlalu banyak merokok.

Apa yang salah pada pengetahuannya? Tidak ada yang salah. Tetapi, pengetahuan yang tidak dihayati dan diyakini sebagai sikap terbaik, tidak memberi bekas apa-apa pada perilaku. Dan sikap terbaik itu penopangnya adalah harapan dan ketakutan. Ketika Anda merasa takut tertular penyakit, makanan yang sehat pun bisa Anda hindari. Tetapi jika dorongan keinginan untuk merasakan nikmatnya makanan yang lebih menguasai diri Anda, pengetahuan tentang bahaya yang ada di balik sajian di hadapan Anda bisa tidak berarti apa- apa. Anda tetap menikmati. Sebagaimana Anda tetap menikmati senikmat- nikmatnya produk Yahudi, meski Anda tahu keuntungannya dipakai untuk membunuh saudara kita sendiri.

Temuan Prof. Paul Rozin agaknya menarik untuk kita pikirkan. Guru besar di University of Pennsylvania yang menjuluki dirinya dengan Dr. Disgust (Jijik) menghabiskan waktu bertahun-tahun hanya untuk meneliti emosi jijik. Dia melakukan serangkaian percobaan untuk membangkitkan rasa jijik dan sebaliknya. Hasilnya? Emosi jijik sangat memengaruhi manusia, sekali pun terhadap apa yang tidak tampak. Lebih-lebih jika emosi jijik itu disertai pengetahuan. Secara umum, emosi yang kuat terhadap suatu perkara jauh lebih kuat pengaruhnya daripada sekadar pengetahuan.

Karakter yang kuat akan cenderung hidup secara berakar pada diri anak-anak kita apabila mereka semenjak awal telah dibangkitkan keinginan untuk mewujudkannya, belajar bersedih apabila orang lain tidak melakukannya, membangkitkan keinginannya untuk menjadikan orang lain baik, dan menumbuhkan kebanggaan saat melakukan, meski dianggap aneh. Pendidikan tentang baik dan buruk serta benar dan salah tanpa membangkitkan keinginan untuk menjadikan orang lain benar, justru cenderung rapuh. Ia bisa terbawa pada dua titik: jumud atau mudah menghakimi orang. Ini pada gilirannya juga dapat melahirkan kelemahan berikutnya: tidak dapat menerima kebenaran atau sebaliknya justru sekali terpatahkan, akan berantakan keyakinannya.
Na‘ûdzubillâhi min dzâlik.

Proses pembangunan karakter yang baru saja kita perbincangkan, akan lebih mudah membekas apabila kita hadirkan kepada mereka sosok yang dapat menjadi sumber identifikasi diri. Sosok yang menjadi qudwah. Kita hadirkan kepada mereka sosok-sosok besar itu, meski tak banyak ditulis dalam sejarah, dengan penceritaan yang hidup dan wajar. Kita hadirkan kebesaran mereka dengan menampilkan tantangan-tantangan yang mereka hadapi. Bukan hanya cerita yang bertabur kata sifat sehingga kita tidak memiliki gambaran seberapa besar mereka sesungguhnya. Di sinilah pembangunan karakter membutuhkan model yang menjadikan anak meniru dengan bangga. Dan inilah yang membuat saya sangat berkeinginan untuk menulis tentang tokoh-tokoh besar dalam sejarah; tokoh-tokoh yang membuat anak bangga dan tergerak jiwanya untuk bertindak. Andaikan Dunia Islam hanya memiliki seorang Shalahuddin Al- Ayyubi sesudah Nabi Saw., telah cukup bagi kita untuk membakar semangat dan membangun karakter pada anak-anak kita.

Tetapi … yang terjadi tidak demikian. Kita hampir tak mengenalnya. Sementara di ujung sana, lihatlah! Di Vietnam, Amerika menderita kekalahan secara mengenaskan. Tetapi, ia menciptakan Rambo; tokoh rekaan yang membuat seluruh orang Amerika seperti pahlawan. Ia tidak ada, tetapi ia dihadirkan seakan-akan nyata bersama-sama tokoh lain yang juga hanya ada di film saja.
O… Allah, Engkau telah hadirkan kepada kami, Husain bin ‘Ali, ‘Amru bin ‘Ash, Khalid bin Walid, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, dan entah berapa lagi manusia- manusia besar yang sungguh-sungguh ada telah Engkau berikan kepada kami. Tetapi … kebanyakan dari kami tidak mengenalnya, sehingga tak sanggup kami mengabarkan kepada anak-anak kami tentang mereka.

Ammâ ba‘du.

Ada lagi yang perlu kita perhatikan. Perintah dan larangan yang menyertai pemahaman tentang baik dan buruk akan memperkuat karakter yang kita bangun pada anak. Tetapi, pemberian perintah dan larangan semata justru bisa membuat mental anak rapuh, kreativitas mereka mati, dan jiwa mereka kerdil. Perintah dan larangan itu sebaiknya diberikan kepada mereka sebagai lanjutan dari penanaman prinsip-prinsip dasar yang kukuh. Jadi, semacam konsekuensi dari prinsip yang telah lebih dulu mereka pahami dan hayati. Jika tidak, mereka menjadi orang yang kaku, bukan kukuh. Beda sekali kaku dengan kukuh!
Wallâhu a‘lam bish-shawâb.

SUMBER : BUKU POSITIVE PARENTING Oleh Mohammad Fauzil Adhim

WA ADmin : bit.ly/InfoPaket-DT-AQIQAH

Instagram DT AQIQAH

Facebook DT AQIQAH

Youtube DT AQIQAH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *