MATINYA PERJUANGAN | Daarut Tauhiid AQIQAH Bandung

MATINYA PERJUANGAN

Sejarah peradaban besar pada dasarnya adalah perjalanan hidup seorang manusia besar. Ia menciptakan perubahan bukan karena banyaknya harta yang dimiliki, juga bukan karena kuatnya kekuasaan yang ia genggam. Tetapi, ia menciptakan perubahan yang menggerakkan jiwa orang-orang di sekelilingnya oleh kuatnya jiwa, tajamnya pikiran, kukuhnya hati dan tingginya daya tahan berjuang dikarenakan besarnya cita-cita. Kerap kali, cita-cita besar itu bukan digerakkan oleh gemerlapnya dunia yang sekejap, tetapi oleh keyakinan yang menjadi ideologi perjuangannya.

Orang-orang yang merintis jalan perjuangan adalah mereka yang merelakan kenikmatan hidupnya demi meraih apa yang menjadi keyakinannya. Bukan karena mereka tidak pernah berhasrat pada kenikmatan, melainkan karena kenikmatan itu menjadi kecil dan tidak ada artinya dibandingkan cita-cita besar yang terpendam dalam jiwa. Demi memperjuangkan keyakinan, mereka bersedia memilih jalan hidup yang sama sekali tidak populer; mengawali perjuangan dengan menghadapi senyum sinis dan bahkan apabila perlu seperti halnya Nabi Saw. dianggap gila dalam arti yang sebenarnya. Sedemikian kuatnya tudingan itu, sampai-sampai Allah Ta‘âlâ memberikan pembelaan dengan firman-Nya:

“Nûn, demi kalam dan apa yang mereka tulis, berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan sesungguhnya bagi kamu benar- benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila” (QS Al-Qalam [68]: 1-6)

Orang-orang yang merintis jalan adalah mereka yang memiliki kelapangan hati untuk belajar, meski kepada yang lebih muda dan masih amat hijau. Mereka inilah yang memenuhi dadanya dengan kelapangan dan sekaligus kepedihan tatkala melihat saudaranya berkubang dalam keburukan. Ketegaran jiwanya bertemu dengan kelembutan yang penuh kesantunan. Kematangan ilmunya bertemu dengan kehausan untuk belajar dan kesediaan untuk mendengar. Mereka ingin sekali mencicipkan kebenaran, bahkan kepada orang yang telah terjerumus dalam kesesatan yang amat jahat.

Inilah yang menggerakkan para pendurhaka mendatangi majelis-majelisnya, dan bahkan mendatangi lututnya untuk bersimpuh. Inilah yang menyebabkan orang- orang yang keras hatinya menjadi luluh dan bahkan berbalik menjadi sahabat dalam berjuang, dan kawan dalam menanggung penderitaan. Inilah yang membangkitkan semangat untuk berbenah dan berbuat baik sesudah mereka berputus asa atas banyaknya keburukan dan dosa yang telah mereka perbuat.

Dan ini pula yang menyebabkan satu negeri, satu kawasan, atau sekurangnya satu kampung mendapat kucuran barakah dari Allah; baik yang Dia turunkan dari langit maupun yang Dia munculkan dari bumi.
Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman, Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka barakah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS Al-A’râf [7]: 96).

Maka bertebaranlah kebaikan di dalamnya. Setiap yang masuk di tempat itu, akan merasakan kebaikan yang merata. Hingga zaman bertukar masa berganti. Para perintis telah beranjak tua dan sesudah itu pergi menghadap Al-Khaliq. Sementara yang dulu menyertai perjuangannya di samping kiri dan kanan atau dibelakangnya, kini telah menjadi yang dituakan.

Sedangkan anak-anak yang dulu bermain-main lucu, sekarang sedang menentukan warna zamannya. Atau …, mereka ditentukan oleh semangat zaman yang melingkupinya.

Inilah titik krusial yang kerapkali menjadi awal terhentinya perjuangan. Banyak jebakan pada masa ini. Generasi peralihan dari perintis kepada generasi kedua, tepatnya generasi yang menyertai pahit getirnya perintisan ketika sudah mulai berjalan, jika tidak berhati-hati bisa terjatuh pada tafrîth atau ifrâth. Bisa terjebak pada tasâhul yang berlebihan atau sebaliknya tasyaddud yang melampaui batas. Bisa terperangkap pada sikap jumud yang anti-perubahan dan sulit menerima masukan, atau sebaliknya berlebihan dalam menanggapi perubahan dan bahkan tidak jarang tercebur dalam arus perubahan itu sendiri.

SUMBER : BUKU POSITIVE PARENTING Oleh Mohammad Fauzil Adhim

WA ADmin : bit.ly/InfoPaket-DT-AQIQAH

Instagram DT AQIQAH

Facebook DT AQIQAH

Youtube DT AQIQAH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *