“Kisah Umar bin Khattab dan Nenek Tua” | DT AQIQAH

“Kisah Umar bin Khattab dan Nenek Tua”

Mendengar kata blusukan, mungkin bagi kebanyakan masyarakat kita adalah sesuatu yang baru. Padahal dalam sejarah Islam, sejumlah khalifah sudah melakukan hal ini. Tengok apa saja yang kerap dilakukan Umar bin Khattab Radhiyallahu ánhu. Begitu besar perhatian Umar terhadap rumah tangga rakyatnya demi tegaknya kehidupan social yang sehat di kalangan ummat.

Seperti yang di riwayatkan dari Yahya bin Abdullah, dari Al-Auza’I bahwa Rasulullah Shallallahu álaihi wasallam, Thalhah bin Ubaidillah pernah menyaksikan suatu Ketika Umar keluar dalam kegelapan malam dan masuk ke salah satu rumah. Lalu Umar masuk ke rumah lainnya.

Keesokan paginya, Thalhah mendatangi rumah itu. Ternyata di dalam rumah dia mendapati seorang nenek buta sedang duduk. Thalhah lalu bertanya kepada sang nenek, “Mengapa lelaki itu (Umar) datang ke rumahmu?”

Wanita tua itu kemudian menjawab, “Ia selalu mengunjungiku setiap beberapa hari sekali untuk membantuku membersihkan dan mengurus segala keperluanku. Sejak waktu itu dia berjanji kepadaku dia akan datang membawa kebutuhanku dan menghilangkan sakitku.”

Thalhah terkejut mendengar keterangan yang di sampaikan sang nenek. Syahdan, Thalhah lalu mencerca dirinya sendiri, “Celakalah dirimu wahai Thalhah, kenapa engkau memata-matai Umar?”

Kisah Umar blusukan mengunjungi perempuan tua juga pernah dilakukan saat dia baru saja pulang dari melawat ke negeri Syam. Sudah menjadi kebiasaan Umar blusukan melihat keadaan rakyatnya untuk mengetahui secara langsung penderitaan mereka.

Suatu ketika Umar menuju ke sebuah pondok reot milik seorang nenek itu. Hanya saja, saat itu Umar menyamar sebagai orang yang biasa saja. Tujuannya agar dia tahu betul apa yang menjadi penderitaan rakyatnya sekaligus ingin mengetahui secara jujur tentang kepemimpinannya. “Bagaimana pendapat nenek tentang Khalifah kita itu?” Kata Umar melontarkan pertanyaan. “Semoga Allah tidak memberi ganjaran baik kepadanya!” Jawab sang nenek.

Mendengar jawaban seperti itu Umar bertanya lagi. “Mengapa nenek berkata demikian?” Nenek itu kembali menjawab, “ Ia sangat jauh dari rakyatnya.” Semenjak menjadi khalifah dia belum pernah menjenguk pondok aku ini, apalagi memberi uang. Tidak mungkin seorang khalifah tidak mengetahui akan keadaan rakyatnya walau di mana mereka berada,” Jawab nenek itu.

Mendengar kata-kata tadi Umar tersentak lalu berkata di dalam hatinya “Celakalah aku karena semua orang dan nenek ini pun mengetahui perihal diriku.” Umar menyesal sambil meneteskan air mata. “Wahai nenek, berapakah kamu hendak menjual kedzaliman Umar terhadapmu? Saya kasihan kalau Umar mati nanti akan masuk neraka. Itupun kalau nenek mau menjualnya,” tanya Umar lagi.

“Jangan engkau bergurau dengan aku yang sudah tua ini,” kata nenek itu. Lalu Umar mengeluarkan uang sebanyak 25 dinar sebagai harga kedzalimannya. “Terimakasih nak, baik benar budimu!” kata nenek itu.

Begitu dia tau bahwa tamu yang berbicara dengannya bahwa tadi adalah khalifah Umar bin Khattab, dengan gemetar nenek itu berkata, “Maasyaa Allah, celakalah aku dan ampunilah nenek atas kelancangan tadi, wahai Amirul mukminin. Nenek telah memaki khalifah Umar dihadapan tuan sendiri.” Namun, Umar tak marah. Curhat nenek itu justru menyadarkannya.

Wallau a’lam. 

 

Sumber : Buku Masuk Surga Sekeluarga, Penulis KH Bachtiar Nasir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *