“Kisah Permata Putri Ali bin Abi Thalib” | DT AQIQAH

“Kisah Permata Putri Ali bin Abi Thalib”

Pada suatu hari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ánhu sangat kaget dengan penampilan putrinya. Beliau merasa ada yang aneh dengan anaknya itu. Bagaimana tidak, putrinya mengenakan perhiasan batu permata gemerlap dari Baitul Mal. Sebelumnya Ali bin Abi Thalib sudah tahu keberadaan batu permata itu, tapi Ali bin Abi Thalib tak habis pikir, bagaimana putrinya mendapatkan perhiasan itu. Padahal, dirinya beserta keluarganya sudah berkomitmen untuk zuhud dan menjaga diri mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu álaihi wasallam untuk hidup sederhana.

 

Lalu, Ali bin Abi Thalib berkata, “Dari mana dia mendapatkan batu permata itu? Demi Allah, aku akan memotong tangannya.”

Ali bin Abi Thalib awalnya menduga sang puteri telah mencuri batu permata itu dari Baitul Mal. Karena itu dia sungguh-sungguh ingin memotong tangan puterinya. Beruntung, sebelum niat itu dilaksanakan, Ibnu Abi Rafi’ seorang yang bekerja pada Ali bin Abi Thalib untuk menjaga Baitul Mal memberikan penjelasan perihal batu permata yang dikenakan puterinya itu.

 

“Demi Allah, wahai Amirul Mukminin, akulah yang memberinya hiasan batu permata itu. Bagaimana dia bisa mengambil batu permata itu, jika aku tidak memberikan padanya?”Jelas Ibnu Rafi’.

Mendengar penjelasan itu, Ali bin Abi Thalib pun terdiam. Kisah ini memberikan gambaran bagaimana kehidupan sahabat Rasulullah Shallallahu álaihi wasallam sebagai pemimpin yang lurus. Ketika anggota keluarganya melakukan kesalahan, mereka siap menghukumnya demi menegakkan keadilan.

 

Disamping itu, para sahabat selalu berupaya untuk menekankam komitmen zuhud, tidak berminat kepada sesuatu yang bersifat keduniawian, alias meninggalkan gemerlap kehidupan yang bersifat material.

Sejatinya, zuhud termasuk salah satu ajaran agama yang sangat penting untuk megendalikan diri dari pengaruh negative kehidupan dunia. Sebagaimana firman Allah SWT :

 قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَىٰ وَلَا تُظْلَمُونَ فَتِيلًا…..

Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.” (QS An-Nisa(4) : 77)

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS Al-Anám(6) : 32)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ ۚ أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.” (QS At-Taubah(9) : 38)

 

Sederet ayat diatas memberi petunjuk bahwa kehidupan dunia yang sekejap ini sungguh tidak sebanding dengan kehidupan akhirat yang kekal dan abadi.

Sifat zuhud inilah yang membuat Ali bin Abi Thalib, meskipun menjadi pemimpin negara tetapi hidup sederhana. Seperti yang banyak diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib sering menjalani hari-harinya dengan menahan lapar. Bahkan pakaiannya lebih lusuh dibandingkan orang kebanyakan.

 

Sifat ini pula yang ditunjukkan Abu Bakar dan Umar bin Khattab Radhiyallahu ánhu. Padahal, kedua sahabat Rasulullah Shallallahu álaihi wasallam ini sebagai pemimpin yang sejatinya kaya raya, tetapi rela berpayah-payah menahan lapar. Begitu juga dengan Ustman bin Affan Radhiyallahu ánhu yang berlaku zuhud padahal harta dari berdagang yang dilakukan begitu melimpah.

Sidta zuhud inilah yang membuat Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ánhu takut Ketika ada benda, apalagi batu permata tiba-tiba dimiliki anggota keluarganya tanpa alas an yang jelas. Wallahu álam.

 

Sumber : Buku Masuk Surga Sekeluarga, Penulis KH Bachtiar Nasir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *