KISAH PENTINGNYA PERAN ORANG TUA DALAM MEMBANGUN KEPRIBADIAN ANAK | DT AQIQAH Bandung

KISAH PENTINGNYA PERAN ORANG TUA DALAM MEMBANGUN KEPRIBADIAN ANAK

Sejarah Islam yang mulia merekam kisah-kisah dan contoh kepribadian anak yang dipengaruhi oleh kepribadian ayah dan ibu mereka. Di antaranya :

1. Kepribadian Seorang Ayah
Diceritakan bahwa keberanian Abdullah Ibn az-Zubair adalah pengaruh dari keberanian ayah dan ibunya – radiallahu’anhuma- yang ditirunya.

Al-Laits meriwayatkan dari Abul Aswad dari Urwah, katanya:
“Az-Zubair memeluk Islam dalam usia 8 tahun. Suatu waktu dia pernah tersugesti oleh syetan bahwa Rasulullah – shalallahu alaihi wasallam- ditangkap di dataran tinggi Mekkah. Az-Zubair yang masih kanak-kanak, berusia 12 tahun keluar rumah sambil membawa pedang. Setiap orang yang melihatnya terheran-heran dan berkata:
“Anak kecil menenteng pedang?!”
Hingga akhirnya bertemu Nabi. Nabi turut heran terhadapnya dan bertanya:
“Ada apa denganmu wahai az-Zubair?!”
Az-Zubair mengabarkan (sugesti yang terlintas dalam fikirannya) seraya berkata:
“Aku datang untuk memenggal dengan pedangku ini siapa pun yang menangkapmu!”
(Siar a’lam an-Nubala I/41-42)

2. Keberanian Sang Ibu

Cerita keberanian Asma binti Abu Bakar, Ibu dari Abdullah Ibnu az-Zubair -radiallahu’anhum. Imam adz-Zahabi berkata:
Abu al-Muhayyah Ibn Ya’la at-Taymi Menceritakan kepada kami dari ayahnya, katanya:
“Aku masuk Mekkah setelah tiga hari terbunuhnya Ibnu az- Zubair yang terpasung. Ibunya yang sudah renta datang dan berkata kepada al-Hajjaj:
“Bukankah sekarang saatnya bagi yang terpasung untuk turun?”
“Si munafik?” Sela al-Hajjaj.
“Demi Allah, dia bukanlah orang munafik. Dia adalah anak yang senantiasa berpuasa, shalat malam dan berbakti pada orang tua.” Sergah Ibu Ibnu az-Zubair.
“Pergilah engkau wahai orang tua, engkau tengah membual.” Ucap al-Hajjaj.
Ibu Ibnu Zubair berkata lagi: “Tidak, demi Allah, aku tidaklah membual setelah Rasulullah bersabda:
“Di Tsaqif akan ada pendusta dan orang yang lalim.
(Sabda Rasulullah itu adalah ramalan beliau akan peritiwa yang akan terjadi setelah kematiannya. Ibu Ibnu az-Zubair merupakan salah satu sahabat Nabi dari kaum wanita. Al-Hajjaj adalah salah seorang penguasa yang lalim)

3. Keberanian Sang Anak

Cerita keberanian Abdullah Ibn Zubair:
Ishaq Ibn Abu Ishaq berkata:
Aku hadir pada peristiwa terbunuhnya Ibnu az-Zubair, dimana para tentara masuk mengepungnya dari setiap pintu masjid. Ketika sekelompok pasukan masuk dari suatu pintu, Abdullah Ibn az-Zubair menghalau dan mengeluarkan mereka. Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba jatuh plafon masjid dan menimpanya sehingga membuatnya tersun Ishaq Ibn Ibrahim at-Thabari berkata:
“Aku tidak mengetahui seseorang yang lebih takut terhadap dirinya dan lebih perhatian kepada manusia dari pada al- Fudhail. Bacaan al-Qurannya miris, merindu, perlahan, dan syahdu, seolah sedang berkomunikasi dengan seseorang. Jika lewat pada ayat yang menyebutkan tentang surga, ia mengulang-ulanginya. (Siar a’lam an-Nubala 2/294)

4. Rasa Takut Anak Kepada Allah

Kisah rasa takut dan khawatir seorang anak (Ali putra al- Fudhail Ibn ‘Iyâdh)
Abu Bakar Ibn ‘Iyâsy berkata:
“Aku shalat magrib di belakang Al-Fudhail Ibnu ‘Iyadh, sementara putranya, Ali berada di sampingku. Al-Fudhail membaca:
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin. niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim. Dan sungguh kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).”
Ketika sampai pada ayat:
“Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,”
Ali jatuh pingsan, sedangkan al-Fudhail terus melanjutkan bacaannya.
Abu Sulaiman ad-Dârani berkata:
“Ali Ibn Fudhail tidak sanggup membaca surat al-Qori’ah atau dibacakan kepadanya.”
Dia membaca bait syair:
Asma, wahai Asma janganlah menangisiku Tidak akan tertinggal selain kemuliaan dan agamaku serta pedang yang tergenggam di tangan kananku.

5. Rasa Takut Sang Ayah

Kisah rasa takut sang ayah, Fudhail Ibn Iyadh -rahimahullah- dan kekhawatirannya kepada Allah.
Muhammad Ibn Nâhiah berkata:
“Aku shalat subuh bermakmum di belakang al-Fudhail. Dia membaca surat al-Hâqah. Ketika tiba pada bacaan:
“(Allah berfirman): “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya.” (QS. Al-Hâqoh:30) Al-Fudhail tidak kuasa membendung tangisnya.
Sumber : Buku 30 Langkah Mendidik Anak Agar Mengamalkan Ajaran Agama, Oleh Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi

Informasi layanan aqiqah hubungi kami :
0813-1300-5300
081-313-488-488

WA ADmin : bit.ly/InfoPaket-DT-AQIQAH

Instagram DT AQIQAH

Facebook DT AQIQAH

Youtube DT AQIQAH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *