“Kisah Ayah Pejuang Al-Qurán” | DT Aqiqah

“Kisah Ayah Pejuang Al-Qurán”

Seorang ayah di Makassar datang dan bertanya kepada Ustadz Bahtiar Nasir, “Saya ingin menjadikan kedua anak saya sebagai hafidzh Al-Qurán, bagaimana caranya?”

Setelah mendapatkan ilmu dan mempelajari rumusnya, ayah dua anak itu tenyata serius. Rumusnya adalah berinfak di jalan Allah SWT. Lalu sang ayah yang bekerja di sebuah perusahaan ini mengorbankan diri dan hartanya demi satu tujuan, yaitu menjadikan kedua anaknya sebagai hafidzh Al-Qurán. Ketika dia berani berkorban apa saja demi Al-Qurán dan anaknya, Allah Taála pun menakdirkan dia untuk meninggalkan pekerjaannya yang strategis di puncak kariernya.

Padahal, tidak mudah meniti jalan ke posisi tersebut. Tetapi karena haqqul yaqin dengan firman Allah SWT, dia pun menjual dunia untuk akhiratnya. “Saya harus mencari penghidupan yang halal dan pekerjaan saya tidak boleh bertentangan dengan Al-Qurán,” ujarnya dengan penuh keyakinan.

Lantas, kedua anaknya pun diajari Al-Qurán dan menghafalnya, meski belum menginjak usia 10 tahun. Bersamaan dengan itu, mulailah dia berdagang dengan satu produk mushaf Al-Qurán. Tapi niat dia jualan adalah untuk mengamalkan Al-Qurán, yaitu berjualan mushaf Al-Qurán dengan cara berpikir Quráni : bagaimana meningkatkan omzet bukan asset pribadi, tetapi memberikan yang terbaik untuk islam.

Pada tahun 2013 ayah ini berujar, “Ustadz, saat ini infaq saya beru mencapai 450 juta. Doakan kami bisa berinfaq 1 miliar !” Padahal waktu itu dia baru saja memulai penjuakan mushaf Al-Qurán. Memang, orientasi orang yang bersyariah bukan mengejar profit pribadi atau untuk perusahaan, tetapi mengejar asset untuk kepentingan dakwah. Semua harta yang dihasilkan dari pekerjaannya nyaris diberikan semua untuk agama.

Pada tahun 2015 infaqnya sudah mencapai satu ruko senilai 5 miliar. Kedua anaknya pun sudan menjadi hafidzh Al-Qurán sebelum mencapai usia 10 tahun. Akan tetapi, yang mengherankan ternyata untuk tempat tinggalnya dia lebih memilih ngontrak. Sementara ruko pertama hasil keringatnya diberikan untuk kepentingan ummat. Ketika dintanya, kenapa dia melakukan itu? Jawabannya santai tanpa beban, “Ya, senang aja.”

Dia betul-betul bekerja karena Allah Taála. Setelah hijrah dia mewakafkan satu ruko yang tidak pernah dia miliki sebelumnya. Lalu dia sendiri menumpang secara duniawi, tetapi sesungguhnya istana megah menantinya di akhirat. Jalan ini tentu tidak mudah baginya. Yang pertama harus meyakinkan diri sendiri, lalu meyakinkan istri dan anak-anaknya. Jadi, visinya dibuat dulu dalam keluarganya. Rintangan itu dilewatinya dan jadilah mereka keluarga Quráni.

Jika ditanya cara kerjanya, ternyata profit penjualan yang dia terima hanya 3% dari 20% keuntungannya. Sebanyak 17% dipinjamkan kepada orang-orang yang tidak mampu sebagai uang muka atau down payment (DP) untuk produknya. Itulah yang membuat dagangannya laris manis. Jangan tanya kredit atau tunai, ini bukan ekonomi yang mengandung riba. Orang-orang yang tidak mampu dipinjamkan uang tanpa bunga. Produknya laris, rezekinya lancar, hasilnya diwakafkan untuk ummat.

Itu kebalikan dari orang kebanyakan. Umumnya orang tinggal di rumah besar dan mewah puluhan tahun, sayangnya rumah itu masih kredit. Kelihatannya saja punya harta melimpah. Mobil mewah juga kredit. Sepuluh sampai dua puluh tahun belum tentu terlunasi. Belum lunas, pinjam lagi. Begitu seterusnya. Naudzubillah…

Kita memang mau hidup berapa tahun? Kematian tidak ada yang bisa memastikan, harta yabg dikumpulkan belum tentu bisa dihabiskan sendiri, tetapi kenapa berani berutang sampai mati?

Itulah bedanya dengan ayah dua anak tadi. Dia mencari harta yang sesungguhnya, lalu diinfakkan.

 

Sumber : Buku Masuk Surga Sekeluarga, Penulis KH Bachtiar Nasir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *