KEWAJIBAN PADA ANAK YANG BARU LAHIR: KHITAN | DT AQIQAH, Aqiqah Mudah, berkah Sesuai Syariah

KEWAJIBAN PADA ANAK YANG BARU LAHIR: KHITAN

PENGERTIAN

Kata khitan berarti perbuatan orang yang mengkhitan. Khitan juga diaryikan sebagai bagian (tertentu pada kemaluan) yang dikhitan. “Apabila khitan bertemu dengan khitan maka mandi menjadi wajib.” (Kata khitan dalam hadits ini berarti bagian pada kemaluan yang telah dikhitan.

Khita untuk wanita dikenal dengan sebutan khafdh. Dalam Bahasa arab diungkapkan, “khatantu al-ghulama khatnan.” (saya telah mengkhitan anak itu). Atau “khafadthu al-jariyata khafdhan” (saya telah mengkhitan anak perempuan itu). Kata al-jariyah tidak hanya berarti budak wanita saja, tapi juga berarti wanita secara umum.

Orang yang tidak dikhitan disebut aqlaf. Qulfah atau ghurlah adalah bagian kulit yang dipotong. Khitan seorang laki-laki adalah dengan memotong kulit (daging) yang membalut kepala penisnya.

Khitan perempuan adalah dengan memotong kulit (daging) yang berbentuk seperti jengger ayam jantan yang tumbuh di atas vagina perempuan.

Jadi kata khitan iitu dapat berarti nama bagian dari kemaluan yang tersisa setelah dikhitan, baik dari kemaluan laki-laki ataupun kemaluan perempuan. Khitan juga berarti perbuatan orang yang mengkhitan. Juga dapat berarti undangan untuk menghadiri suatu walimah, seperti aqiqah berarti undangan untuk menghadiri walimah aqiqah.

 

SYARIAT KHITAN DAN HUKUMNYA

Islam telah mensyariatkan khitan dan menjadikannya sebagai salah satu fitrah manusia.

Ada sebuah hadits di dalam shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda:

“(Perbuatan yang sesuai dengan) fitrah itu ada lima; khitan, mencukur rambut di sekitar kemaluan, memangkas kumis, memotong kuku, dan mencabuti bulu ketiak.”

Dalam hadits tersebut, khitan khitn dijadikan sebagai bagian fitrah yang disebut pertama kali sebelum empat bagian fitrah lainnya. Kelima bagian tersebut di atas merupakan fitrah, karena fitrah merupakan bagian dari ajaran Sunnah Nabi Ibrahim a.s. perbuatan yang lima tersebut merupakan perkara-perkara yang diperintahkan oleh Allah swt kepada Nabi Ibrahim as.

Terkait dengan hukum khitan, para ulama berendapat tentang diwajibkan atau disunnahkannya khitan.

Adapun dalil-dalil yang menguatkan bahwa khitan adalah wajib:

  1. An-Nahl: 123

Kemudian kami wahyukan kepadamu (Muhammad), ‘ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Khitan termasuk ajaran nabi Ibrahim a.s

 

  1. Ahmad dan Abu Daud dari Muhammad ibn Mukhallad dari Abdurrazzaq bahwa Ibnu Juraij berkata, “Utsaim ibn Kulaib telah menceritakan kepadaku dari ayahnya, dari kakeknya bahwa ia (sang kakek) datang menemui Nabi saw dan berkata, ‘aku telah masuk islam’. Kemudian nabi menjawab, ‘buanglah rambut kekafiranmu.’ Maksudnya, cukurlah rambutmu.

(Ibnu Juraij berkata) sementara yang lain menceritakan kepadaku bahwa nabi saw telah berkata kepada sahabat lain, “cukurlah rambut kafirmu dan berkhitanlah.”

 

  1. Al-Khaththabi dalam satu kesempatan beliau menuturkan, “adapun khitan, sekalipun disebutkan dalam serangkaian beberapa perkara Sunnah, namun menurut kalangan banyak ulama, hukumnya wajib. Karena khitan adalah salah satu symbol agama islam. Bahkan dengan khitan itu dapat diketahui seorang muslim atau kafir. Tidak berkhitan merupakan simbol kalangan penyembah salib dan penyembah api. Lebih lagi khitan juga termasuk syiar atau symbol orang-orang hanif (ahli tauhid) yang pemimpin mereka adalah Nabi Ibrahim a.s. Beliau berkhitan sehingga menjadi symbol bagi kalangan ahli tauhid. Yang kemudian diwarisi oleh anak cucu Isma’il dan anak cucu Israil.

 

Sementara yang berpendapat hukum khitan adalah istihbab mereka berdalil dengan riwayat-riwayat dhaif, salah satunya: “khitan disunnahkan kaum laki-laki, dan merupakan kemuliaan bagi kaum perempuan.”

Hadits ini dinilai mauquf (sanad-nya tidak sampai ke Rasulullah saw, atau perkataan tersebut bukan sabda Rasulullah saw).

 

Sumber: Aqiqah: Risalah lengkap berdasarkan Sunnah Nabi oleh Ahmad ibn Mahmud ad-Dib

8 thoughts on “KEWAJIBAN PADA ANAK YANG BARU LAHIR: KHITAN | DT AQIQAH, Aqiqah Mudah, berkah Sesuai Syariah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *