KEISTIMEWAAN ANAK SUKA BERKOMPETISI | DT AQIQAH Bandung

KEISTIMEWAAN ANAK SUKA BERKOMPETISI

Pada fase pertama, anak memiliki keistimewaan menyukai kompetisi di antara mereka. Kita hendaknya mengarahkan kompetisi itu dalam perkara yang mulia.
خِتٰمُهٗ مِسۡكٌ ؕ وَفِىۡ ذٰلِكَ فَلۡيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُوۡنَ
Khitaamuhuu misk; wa fii zaalika falyatanaafasil Mutanaafisuun
laknya dari kasturi. Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. (QS.al-Muthaffifîn:26)

Seperti berkompetisi dalam ketaatan semisal: shalat, puasa dan amalan-amalan sunah lain. Semua itu kita jadikan ajang kompetisi. Jangan sampai anak-anak lebih senang menghafal berbagai nyanyian (Lagu) dari pada menghafal Al-Qur’an. Bahkan lebih senang menjadi nomor satu dalam lagu apa saja yang dihafalkan, dari pada menjadi nomor satu dalam menghafal Al-Qur’an. Didalam shalat berjama’ah pun, kita dapat saksikan sendiri bagaimana ada yang sampai menyerahkan shaf terdepan pada orang lain. Akhirat diberikan pada orang lain, padahal shaf terdepan adalah shaf utama dibanding yang di belakangnya bagi kaum pria.

Demikianlah karena tidak paham dalam hal menjadi nomor satu dalam kebaikan akhirat sehingga rela menjadi yang terbelakang. Sebagaimana Allah SWT berfirman :

سَابِقُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS Al-Hadid : 21)

Dalam ayat ini begitu jelas bahwa Allah SWT memerintahkan berlomba-lomba untuk meraih ampunan dan syurga-Nya. Asy syaukani rahimahullah mengatakan, ” Berlombalah menjadi yang terdepan dalam beramal sholih yang menyebabkan datangnya ampunan, serta bertaubatlah atas maksiat yang kalian perbuat.” Maka, ajarkanlah ini kepada anak-anak kita.

Contoh Praktis Dan Kisah Yang Menunjukkan Pentingnya Kompetisi Ketaatan Dalam Membangun Kepribadian Anak

1. Samuroh Ibn Jundab -radiallahu’anhu- berkata:
Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- mengumpulkan remaja-remaja Anshar. Jika beliau menganggap ada dari mereka yang telah balig, beliau akan mengizinkannya ikut berperang. Pada suatu tahun aku mengajukan diriku. Turut pula mengajukan diri seorang remaja lain dari Anshar. Beliau mengizinkan remaja itu dan menolakku. Aku pun berkata:
“Engkau telah mengizinkan anak yang jika aku gulati niscaya aku akan mengalahkannya.”
Nabi berkata: “Gulati dia.” (Musnad ar-Rumâni II/78)

2. Abdurrahman Ibn Auf -radiallahu’anhu- berkata:
“Aku tengah berada dalam saf peperangan Badar. Ketika menoleh ke kanan dan kiriku ada dua orang pemuda. Aku merasa cemas dengan keberadaan mereka dalam peperangan. Seorang dari mereka berbisik kepadaku:
“Wahai paman, tunjukkan kepadaku yang mana Abu Jahal!”
“Wahai putra saudaraku, apa yang akan engkau lakukan dengannya?” Tanyaku.
“Wahai paman, aku telah berjanji kepada Allah, jika melihatnya aku akan membunuhnya atau mati karenanya.” Jawab pemuda itu.
Seorang lagi berbisik seperti itu pula. Masing-masing tidak mau yang lain mengetahuinya. Sehingga tidak ada yang membuatku senang, selain berada di antara keduanya. Aku pun menunjukkan yang mana Abu Jahal. Keduanya pun melesat seperti dua ekor elang dan menyerang Abu Jahal. Kedua pemuda itu adalah putra Afro’.” (Al-Bukhari no.3988. kitab: al-Maghazi)

Disebutkan oleh Ibnu Jarir dalam kitab tarikhnya dari jalan Saif dari Abdullah Ibn Syabramah dari Syaqiq, dia berkata:
“Kami menyerbu al-Qodisiah tengah hari. Ketika mundur waktu telah masuk waktu shalat, sedangkan muazin dalam keadaan terluka. Orang-orang pun ingin menggantikan muazin, hingga hampir-hampir saling berperang. Saad -radiallahu’anhu- akhirnya melakukan undian di antara mereka, sehingga terpilih salah seorang dari mereka dan dikumandangkanlah adzan. (Hayatus Sohahab IV/154)

Sumber : Buku 30 Langkah Mendidik Anak Agar Mengamalkan Ajaran Agama, Oleh Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi

 

SUMBER : GenerasiBacaParenting

WA ADmin : bit.ly/InfoPaket-DT-AQIQAH

Instagram DT AQIQAH

Facebook DT AQIQAH

Youtube DT AQIQAH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *