IMAN TIDAK DIWARISKAN | DT AQIQAH Bandung

IMAN TIDAK DIWARISKAN

K.H. Ahmad Dahlan, yang mendirikan Nahdlatul ‘Ulama, masih bisa kita lacak, meski semakin langka. Tetapi, jejak-jejak ruhiyah dan idealismenya semakin sulit kita temukan. Apa yang dulu diyakini haram oleh Hadratusy-Syaikh, hari ini justru dianggap wajib oleh mereka yang merasa sebagai pengikutnya. Kisah tentang K.H. Ahmad Dahlan yang mengulang-ulang pembahasan tentang al-mâ‘ûn hingga menimbulkan pertanyaan dari murid-muridnya, masih kerap kita dengar. Jejak-jejak kebaikan berupa rumah sakit, panti asuhan, dan sekolah-sekolah juga masih bertebaran. Tetapi, jejak-jejak ruhiyah dan idealisme yang membuat K.H. Ahmad Dahlan bergerak menata akidah umat ini, rasanya semakin lama dilacak.

Apa artinya? Iman tidak kita wariskan, kecuali kalau hari ini kita didik mereka dengan sungguh-sungguh untuk mencintai Tuhannya. Keyakinan, cara pandang, dan idealisme juga tidak bisa kita wariskan ke dalam dada mereka kalau hari ini kita hanya sibuk memikirkan dunianya. Bukan akhiratnya. Atau kita persiapkan mereka menuju akhirat, tetapi kita hanya bekali mereka dengan kekuatan, keterampilan, dan ilmu untuk memenangi hidup di dunia dan menggenggamnya dengan tangan mereka. Betapa banyak anak-anak yang dulu rajin puasa Senin Kamis, tetapi ketika harus bertarung melawan kesulitan hidup, imannya yang berubah menjadi Senin Kamis. Kadang ada, kadang nyaris tak tersisa. Na‘ûdzubillâhi min dzâlik.

Teringatlah saya dengan perkataan Nabi Ya‘qub saat menghadapi sakaratul maut. Allah Ta‘âlâ mengabadikannya dalam Surah Al-Baqarah ayat 133:
“Adakah kamu hadir ketika Ya‘qub kedatangan (tandatanda) maut, ketika dia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Isma‘il, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya” (QS Al-Baqarah [2]: 133). Ya, inilah pertanyaan Nabi Ya‘qub ‘alaihis-salâm, “Mâ ta‘budûna min ba‘dî? Apakah yang akan kalian sembah sepeninggalku?” Bukan, “Mâ ta’kulûna min ba’dî? Apakah yang akan kalian makan sesudah aku tiada?”

Lalu, seberapa gelisah kita hari ini? Apakah kita sibuk memperbanyak tabungan agar kelak mereka tidak kebingungan cari makan sesudah kita tiada? Ataukah kita bekali jiwanya dengan tujuan hidup, visi besar, semangat yang menyala- nyala, budaya belajar yang tinggi, iman yang kuat dan kesediaan untuk berbagi karena Allah. Kita hidupkan jiwanya dengan memberi bacaan yang bergizi, nasihat yang menyejukkan hati, dorongan yang melecut semangat, tantangan yang menggugah, dan dukungan pada saat gagal sehingga ia merasa kita perhatikan. Kita nyalakan tujuan hidupnya dengan mengajarkan mereka untuk mengenal Tuhannya. Dan, kita bangun visi besar mereka dengan menghadirkan kisah orang-orang besar sepanjang sejarah; orang-orang saleh yang telah memberi warna bagi kehidupan ini, sehingga mereka menemukan figur untuk dipelajari, dikagumi, dan dijadikan contoh.

50 tahun mendatang anak-anak kita, hari inilah menentukannya. Semoga warisan terbaik kita untuk mereka adalah pendidikan yang kita berikan dengan berbekal ilmu dan kesungguhan. Kita antarkan pesan-pesan itu dengan cara yang terbaik. Sementara doa-doa yang kita panjatkan dengan tangis dan airmata, semoga menggenapkan yang kurang, meluruskan yang keliru, menyempurnakan yang sudah baik dan di atas semuanya, kepada siapa lagi kita meminta selain kepada- Nya?

50 tahun mendatang anak-anak kita, hari inilah menentukannya. Semoga warisan terbaik kita untuk mereka adalah pendidikan yang kita berikan dengan berbekal ilmu dan kesungguhan. Kita antarkan pesan-pesan itu dengan cara yang terbaik. Sementara doa-doa yang kita panjatkan dengan tangis dan airmata, semoga menggenapkan yang kurang, meluruskan yang keliru, menyempurnakan yang sudah baik dan di atas semuanya, kepada siapa lagi kita meminta selain kepada- Nya?

Ya Allah …, ampunilah aku yang lebih sering lalai daripada ingat, yang lebih sering zalim daripada adil, yang lebih sering bakhil daripada berbagi karena mengharap ridha-Mu, yang lebih banyak jahil daripada mengilmui setiap tindakan, yang lebih banyak berbuat dosa daripada melakukan kebajikan ….

SUMBER : BUKU POSITIVE PARENTING Oleh Mohammad Fauzil Adhim

WA ADmin : bit.ly/InfoPaket-DT-AQIQAH

Instagram DT AQIQAH

Facebook DT AQIQAH

Youtube DT AQIQAH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *