Dalam Akad Nikah, Bagaimana Jika Ayah Menolak Menjadi Wali Nikah? | Daarut Tauhiid Aqiqah Bandung

Dalam Akad Nikah, Bagaimana Jika Ayah Menolak Menjadi Wali Nikah?

Sebenarnya pertanyaan tentang masalah peran wali dalam sebuah akad nikah merupakan masalah hukum syariah. Yang disepakati oleh jumhur ulama adalah bahwa wali itu adalah ayah kandung seorang wanita. Dan kedudukannya nyaris tidak bisa digantikan oleh siapapun selama yang bersangkutan tidak memberikan hak perwaliannya itu kepada orang lain. Dalam bahasa fiqih, posisi seorang ayah itu disebut sebagai wali mujbir yang melebih orang lain bila menjadi wali.

Apalagi bila kita sadari bahwa sebuah akad nikah itu pada hakikatnya bukanlah perjanjian antara suami dan istri, melainkan sebuah perjanjian antara mertua dan menantu. Sehingga peran seorang ayah dalam pernikahan anak gadisnya sama sekali tak tergantikan, sebab memang beliaulah yang punya peran utama. Akad nikah itu identik dengan ayah seorang gadis, tanpa ayah maka tidak ada akad. Bahkan siapapun orang yang ‘merampas’ kewalian seorang ayah terhadap anak gadisnya adalah merupakan pelanggaran agama.

Semua ini sangat menjelaskan bahwa seharusnya posisi seorang anak wanita dengan ayahnya harus sehati. Sebab bisa dikatakan bahwa seorang gadis itu benar-benar berada dalam lindungan, asuhan, arahan dan hegemoni seorang ayah. Dan semua itu akan berakhir dan berpindah kepada pihak lain hanya dengan akad nikah yang syar’i. Seorang ayah tidak mungkin menikahkan anak gadisnya dengan sembarang orang, apalagi yang tidak disukai oleh anak gadisnya. Demikian juga sebaliknya, seorang gadis tidak boleh menikah begitu saja tanpa keterlibatan ayahnya. Sejak dari mulai kenal dengan laki-laki, semua itu harus transparan, terbuka, didiskusikan secara baik-baik dengan ayahnya.

Dan pada hakikatnya, tidak mungkin seorang gadis tertarik kepada seorang laki-laki, apalagi sampai mengikat janji dengan siapapun tanpa membicarakannya dengan ayahnya. Sebab kalau hal itu tetap dilakukan, bila suatu ketika sang ayah merasa tidak cocok dengan lelaki itu dan tidak mau menikahkan, hancurlah hati sang gadis. Padahal dialah yang telah melakukan kesalahan pada awalnya, sebab urusan berhubungan dengan lelaki, tidak ada cerita bagi seorang gadis untuk merahasiaknnya dengan ayahnya. Sehingga lampu isyarat baik hijau atau merah dari seorang ayah itu menjadi acuan. Makanakala sejak awal tidak ada lampu hijau, sebaiknya sang gadis tidak menerobos masuk. Kalau lelaki itu nekat untuk mendekati, suruhlah untuk mendekati sang ayah saja dan berjuanglah di situ. Kalau berhasil oke dan kalau tidak berhasil ya sudahlah.

Semua ini bukan adat semata tetapi demikianlah Islam telah mengajarkan bagaimana tata pergaulan seorang anak gadis dengan orang tuanya, terutama kaiatannya dengan urusan menentukan jodoh. Bahwa alasan tidak sesuku dan sejenisnya, memang idealnya tidak perlu dipermasalahkan. Tetapi alasan itu sebenarnya juga tidak bisa dianggap enteng begitu saja. Apalagi sebagai orang timur yang masih sangat kental nilai-nilai hubungan antar individu di dalam keluarga, masalah perbedaan suku cukup menjadi pertimbangan juga. Sebab menikah itu bukan semata-mata pertemua dua insan, melainkan dua keluarga yang berbeda karakter, gaya dan pola hidup. Dan wajar bila pada sebagian keluarga, hal seperti ini masih menjadi hambatan. Paling tidak tiap orang masih butuh waktu untuk bisa menyesuaikan diri bila harus menggabungkan keluarganya dengan keluarga dari suku yang belum pernah dikenal secara dekat sebelumnya.

Maka penolakan berdasarkan suku masih bisa dipahami juga. Dan syariah Islam tidak menganggap hal itu bertentangan, sebab hal itu sebenarnya manusiawi juga. Meski idealnya, syariah Islam tidak mempermasalahkan menikahnya dua keluarga yang berbeda. Tetapi bisa memaklumi bila masih ada rasa demikian pada orang tertentu dan pada suku tertentu. Dan hal demikian memang tidak bisa dipaksakan dengan alasan bertentangan dengan syariah Islam.

Karena itu sebaiknya seorang gadis lebih banyak berdialog dan mengadakan pendekatan dengan ayahnya dalam segala hal. Dia mesti lebih banyak terbuka dengan sang ayah agar tidak menghadapi batu sandungan seperti yang anda ceritakan ini. Dan ide untuk mengganti posisi awal dari kewalian adalah bukan ide yang datang dari syariah Islam.

Konsultasi Keluarga

Diasuh oleh Ibu Rr. Anita Widayanti, SPsi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *