Calon Suami Lebih Muda, Kenapa Tidak?


Budaya di masyarakat kita yang masih diwarnai warisan norma-norma yang cenderung konservatif tidak semuanya harus dianggap mutlak dan harus tetap berlaku dimasa sekarang ini. Perbedaan masa dan rentang waktu serta perubahan iklim budaya sebenarnya juga tidak perlu ditolak selama masih dalam koridor kewajaran tata nilai agama. Soal pernikahan misalnya, para orang tua selalu beranggapan bahwa dengan alasan kedewasaan, kebijaksanaan dan juga soal kepatuhan seorang istri terhadap suami, maka calon suami haruslah lebih tua usianya dari calon istrinya. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika kemudian diketahui usia pasangan orang-orang tua terdahulu sering kali terpaut jauh antara suami dan istri.

Masa berlalu, zaman berubah dan aturan-aturan yang berlaku pun mulai bergeser meski juga tidak menyalahi norma yang tetap dianggap baku. Mulailah kemudian trend yang berkembang adalah pernikahan dengan usia yang relatif sama. Meski tidak selalu, tetapi biasanya proses ini dimulai dari kesamaan visi, kesamaan jenjang pendidikan, pekerjaan atau bahkan hanya bermula dari pertemanan semasa di bangku pendidikan. Memang tidak persis sama usia diantara keduanya, dan biasanya terpaut hanya dua atau tiga tahun. Namun kondisi yang demikian masih bisa dibilang relatif sebaya.

Dan kini, warisan norma-norma dari leluhur yang demikian ternyata masih terus dipegang (dipatuhi) kalangan muda -khususnya wanita- bahwa mereka harus mendapatkan calon pendamping, orang yang akan menjadi pemimpin keluarganya dengan salah satu kriteria bakunya adalah usia yang lebih dewasa. Hal ini masih terlihat di masyarakat kita, baik berupa ungkapan-ungkapan yang tersirat, maupun dari profil-profil yang seringkali kita jumpai di berbagai biro jodoh. Ambil satu contoh profil dari sebuah biro jodoh Islami di Jakarta, “Calon yang saya harapkan tidak sekedar yang beraqidah dan berakhlak baik, tetapi juga yang lebih dewasa, bijak dalam bertindak dan bersikap jujur, sholeh …”

Sementara disisi lain, tidak sedikit ditemui pasangan-pasangan yang tidak mempedulikan faktor usia tersebut. Selama ada kecocokan, kematangan dan kedewasaan berpikir dari lelaki yang berusia lebih muda dan yang terpenting, sikap enerjik, penuh semangat dan berjiwa muda dari si wanita, kenapa tidak? pikir mereka.
Mungkinkah seorang wanita menemukan cintanya pada seorang laki-laki yang usianya lebih muda? dan pada akhirnya jika terjadi pernikahan diantara mereka, dapatkah cinta yang memagari mahligai rumah tangga itu bertahan selamanya dan atau bahkan menjadi yang terakhir? (Kompas Cyber Media/KCM)

Jawabnya, tentu saja mungkin. Simaklah sebuah pertanyaan dalam sebuah rubrik konsultasi keluarga berikut; “Ustadz, saya ingin menikah dengan seorang wanita janda beranak dua. Tetapi wanita ini usianya kurang lebih 40 tahun dan saya jelas 26 tahun. Kami memang berdua saling mencintai. Langkah-langkah apa yang harus saya perbuat dengan dia setelah seumpanya kami berdua jadi nikah nanti?”. Dan dengan bijak sang Ustadz menjawab; “Alhamdulillah, anda lebih mirip dalam mengikuti jejak langkah Nabi SAW daripada saya sendiri. Nabi SAW menikah pertama kali dengan Khadijah RA yang janda berusia 40 th dengan sekian anak dari suami-suami sebelumnya. Perkawinan Beliau SAW dengan Khadijah RA adalah perkawinan yang berkah luar biasa …”
Contoh diatas memberi bukti bahwa bukan tidak mungkin seorang wanita yang bahkan sudah mempunyai anak dari suami sebelumnya (entah bercerai atau karena si suami meninggal) mendapatkan kembali sebuah cinta yang menjadi ruh bagi rumah tangganya. Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah bagaimana pasangan tersebut menyiasati perbedaan usia yang mau tidak mau sudah pasti menciptakan gap antara mereka.

Selain itu, cukup penting untuk diketahui faktor-faktor yang menyebabkan hal ini bisa terjadi di luar faktor Allah -adalah bahwa Allah yang maha berkehendak atas setiap makhluk-Nya-. Artinya, ada faktor dari si manusianya sendiri yang memegang peranan cukup signifikan sehingga “hubungan unik” ini bisa terjadi. Jika si wanita adalah orang yang penuh semangat, enerjik, berjiwa muda dan menyukai hal-hal yang penuh tantangan sebagai cerminan dari jiwa petualangnya, tentu hal-hal demikian akan mampu menyembunyikan goretan-goretan usia tuanya. Ia bisa tampil lebih fresh, lebih muda meski usianya menginjak usia diatas 35. Jadi sebaiknya, para wanita yang belum menemukan jodoh di usianya yang menginjak kepala tiga, tak ada salahnya untuk memperbaiki penampilan untuk lebih fresh, lebih enerjik dan penuh semangat.

Share this:

WhatsApp chat