BIARKAN ANAK-ANAK BERMAIN, TETAPI TEMANI DENGAN TEMA- TEMA AGAMA | DT AQIQAH Bandung

BIARKAN ANAK-ANAK BERMAIN, TETAPI TEMANI DENGAN TEMA- TEMA AGAMA


Bermain dan banyak bergerak adalah karakteristik anak, hendaknya permainan diarahkan kepada sesuatu yang akan menambah kemaslahatan untuk mengamalkan agama ini. Banyak gerak dan tidak bisa diamnya anak bukanlah aib, kesalahan atau tingkah tidak terpuji. Justru memiliki banyak manfaat. Di antaranya menambah kesehatan, kecerdasan dan keahlian anak sejalan dengan pertumbuhannya.

Anak yang tidak bergerak, karena kejiwaan atau paksaan orang tua, akan berakibat pada ketidakstabilan anak, minder, takut, rendah diri atau kesehatan yang lemah, sebagai dampak dari perangai tersebut.
Ayahanda dan bunda, perlu ketahui bahwa seluruh kepala negara dan pemerintahan di dunia bersepakat dan mengakui bermain adalah hak anak sejak 1989. Kesepakatan dan pengakuan ini tertulis dalam Konvensi Hak Anak Pasal 31. Hak anak atas bermain ini juga diperjelas oleh Komite Hak Anak PBB melalui Komentar Umum Nomor 17/2013 yang menekankan bahwa “Bermain sangat penting bagi kesehatan dan kesejahteraan anak-anak dan memajukan pengembangan kreativitas, imajinasi, kepercayaan diri, kemandirian diri, serta kekuatan dan keterampilan fisik, sosial, kognitif, dan emosional. Selain itu, bermain berkontribusi pada semua aspek pembelajaran; bentuk partisipasi dalam kehidupan sehari-hari dan memiliki nilai intrinsik bagi anak, murni dalam hal kesenangan.

Ajak anak-anak kita berdiskusi. Mumpung ayah dan bunda masih memiliki waktu dan kesempatan bersama anak, terutama mereka yang berada di bawah usia 8 tahun. Imaginasi mereka sedang tumbuh dan berkembang, daya ingin tahu besar, rasa memiliki banyak, dan yang terpenting mereka minta diakui dan dihargai.

Contoh Praktis Dan Kisah Pentingnya Permainan Dalam Membangun Kepribadian Anak
Di antara permainan ini seperti menunggang kuda (menyetir), berenang, dan memanah (menembak) sebagaimana yang terdapat di dalam atsar. Atau permainan yang menumbuhkan kemampuan otak yang dapat menjadi wasilah mendapatkan kemahiran, mengumpulkan keahlian dan menumbuhkan kecerdasan.

Ketika engkau mengarahkan anakmu permainan yang mendidik, yang mengandung keberanian bagi anak laki-laki –seperti berkuda, berenang dan memanah-, akan memberi manfaat nantinya kepada umat ini di masa depan. Mereka akan menjadi pribadi-pribadi yang memiliki keberanian dalam menghadapi tantangan. Karenanya marilah kita bermain bersama anak kita dengan apa yang sesuai.

Kisah:
1. Dari Muhammad Ibn Abdullah Ibn Abi Ya’kub, dari Abdullah Ibn Syaddad Ibn al-Hadi Ibn Abihi:
“Nabi -shalallahu alaihi wasallam- keluar untuk melaksanakan shalat, sementara di bahunya menggendong Umamah putri al-Âsh. Beliau pun shalat. Ketika rukuk anak itu diletakkannya, jika bangkit anak itu diangkatnya.” (Al-Bukhari kitab: al-Adab no.5996)
Ibnu Hajar berkata:

“Sebahagian mengambil faedah dari hadits ini betapa besarnya kadar kasih beliau kepada anak. Merupakan dilema antara berupaya menjaga kekusyuan dan menjaga kenyamanan anak, tetapi beliau mendahulukan yang kedua. Yang dilakukan Rasulullah –
shalallahu alaihi wasallam- bisa juga untuk menjelaskan kebolehan.” (Fathul Bâri X/526)

2. Abu Qotadah -radiallahu’anhu- berkata :
“Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- mengimami kami pada salah satu shalat isya sambil membawa Hasan atau Husain. Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- maju mengimami dan meletakkan cucunya. Kemudian bertakbir memulai shalat dan melaksanakannya. Selama berlangsungnya shalat ada sujud yang begitu panjang.

Ubay berkata:
‘Aku mengangkat kepalaku. Ternyata ada anak kecil yang tengah memanjat di punggung Rasulullah yang sedang sujud. Aku pun kebali kepada sujudku. Setelah Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- menyelesaikan shalatnya, orang-orang berkata:
“Wahai Rasulullah engkau sujud dalam salatmu begitu lama sehingga kami mengira terjadi sesuatu atau tengah turun ayat?”
Nabi berkata:

“Semua itu tidak terjadi. Hanya cucuku yang sedang menaiki punggungku. Aku tidak suka mengusiknya sampai dia selesai dari hajatnya.” (Sunan Nasai no.731)
Dalam urusan ibadah seperti ini Rasulullah sangat sayang kepada mereka sampai-sampai membiarkan menyelesaikan permainannya.

Sumber : Buku 30 Langkah Mendidik Anak Agar Mengamalkan Ajaran Agama, Oleh Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi

 

Informasi layanan aqiqah hubungi kami :
0813-1300-5300
081-313-488-488

WA ADmin : bit.ly/InfoPaket-DT-AQIQAH

Instagram DT AQIQAH

Facebook DT AQIQAH

Youtube DT AQIQAH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *