BERSIKAP ADIL KEPADA ANAK


tempat aqiqah dibandung, jasa aqiqah di bandung, rumah aqiqah di bandung,
layanan aqiqah di bandung, rekomendasi tempat aqiqah di bandung, paket aqiqah murah di bandung,
layanan domba aqiqah di bandung, harga paket aqiqah di bandung

Diantara pilar yang penting dalam pendidikan anak adalah berlaku adil diantara anak-anak dan menjauhi ketidakadilan dan kezaliman. Jika orang tua tidak berlaku adil diantara anakanaknya, maka akan muncul permusuhan, rasa hasad dan saling benci di antara mereka. Sebaliknya, jika orang tua berupaya sekuat tenaga untuk berlaku adil, maka hal inilah yang akan menjadi sebab yang paling besar dalam menumbuhkan rasa kasih dan cinta serta bakti anakanak bagi orang tuanya. Terdapat riwayat di dalam Sahih Bukhari, dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma bahwa ayahnya (Basyir) memberikannya sebidang tanah. Lantas ibundanya Nu’man (Amrah binti Rawahah) meminta kepada Basyir supaya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaksikan hal tersebut.

Setelah mereka mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu nabi bertanya, “Apakah engkau juga telah memberi kepada seluruh anakmu semisal ini?” Maka Ayahnya Nu’man pun menjawab, “Tidak”. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bertakwalah kalian kepada Allah dan berlakulah adil diantara anak-anak kalian.”

Di dalam riwayat lain, Nabi katakan “Aku tidak mau bersaksi atas (pemberian) yang dzalim ini.” Pada riwayat Muslim, bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apakah Engkau tidak ingin mereka berbakti kepadamu dengan kadar yang sama?” Basyir, ayah dari Nu’man pun menjawab, “Tentu saja.” Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda, “Jika begitu, jangan Engkau lakukan perbuatan itu lagi.”

Ini adalah peringatan untuk menjauhi ketidakadilan dan kezaliman pada anak. Sekaligus inipun menjadi penjelas atas sebab munculnya kedurhakaan, tidak berbaktinya anak pada orang tuanya, dan juga menjadi sebab permusuhan dan putusnya tali silaturrahim, serta adanya sikap saling menjauhi atau “menjaga jarak”, antar sesama saudara.

Pemberian di sini sifatnya tidak harus dengan porsi yang sama rata, akan tetapi yang penting sama-sama mendapat pemberian yang proporsional dan tidak dibeda-bedakan. Berhujjah dengan hadits Nu’man bin Basyir di atas, para ulama semisal Thawus, Ats Tsauri, hingga Imam Bukhari, mewajibkan untuk berlaku adil dalam hal pemberian. Namun, Ibnu Hajjar dalam Fathul Bari, menyebutkan mayoritas para ulama berpandangan bahwa berlaku adil dalam hal pemberian kepada anak hukumnya sunnah. Syaikh Musthofa Al Adawy dalam Fiqh Tarbiyatil Abna (110-111), menerangkan bahwa terkadang membedakan pemberian pada anak diperbolehkan, dikarenakan ada sebab-sebab tertentu semisal : ada anak yang sakit menahun dan berkepanjangan, sehingga mau tidak mau, alokasi pemberian dari orang tua untuk dirinya menjadi besar. Ini tidak mengapa.

Atau contoh lain, semisal orang tua membatasi pemberian kepada anaknya yang durhaka dan suka bermaksiat. Namun di sisi lain, orang tua memberikan harta lebih kepada anak yang menggunakannya untuk menuntut ilmu ataupun berinfaq, maka yang seperti ini tidak mengapa. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُحِلُّوا۟ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ وَلَا ٱلشَّهْرَ ٱلْحَرَامَ وَلَا ٱلْهَدْىَ وَلَا ٱلْقَلَٰٓئِدَ وَلَآ ءَآمِّينَ ٱلْبَيْتَ ٱلْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّن رَّبِّهِمْ وَرِضْوَٰنًا ۚ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَٱصْطَادُوا۟ ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ أَن صَدُّوكُمْ عَنِ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ أَن تَعْتَدُوا۟ ۘ وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”

“Pemberian (yang adil) di sini sifatnya tidak harus dengan porsi yang sama rata, akan tetapi yang penting sama-sama mendapat pemberian yang proporsional dan tidak dibedabedakan.”

Sumber : Kitab Rakaiz Fii Tarbiyatil Abna

 

Instagram DT AQIQAH

Facebook DT AQIQAH

Youtube DT AQIQAH

Share this:

WhatsApp chat