BAYI KUNING, PERLUKAH DONOR ASI? | DT AQIQAH Daarut Tauhiid

By bunda Arit Widowati (Konselor Laktasi)

Sedih, makin banyak bayi #Newborn kuning disinar. Banyak ibu muda galau, minta donor ASI. Padahal harusnya tidak semudah itu mengganti ke donor asi, tapi  kalau tidak dicarikan donor ASI atau tidak ada yang mendonorkan ASInya, pasti kena SuFor. Dan ini bisa jadi awal kegagalan seorang ibu lancar menyusui apalagi jika pemberiannya menggunakan dot.

Para ibu muda belum cukup percaya diri bahwa tak semua bayi kuning harus disinar. Namun ketika yang menyarankan adalah nakes kepercayaannya, berbagai resiko negatif jika tidak disinar terus menghantuinya.

Mau diyakinkan seperti apapun kalau sudah down ya sulit. Akhirnya sebagai konselor saya ikuti saja dulu, dampingi, dan fokus ke manajemen laktasi setelahnya.

Oh ya, tulisan ini sebenarnya khusus untuk kasus bayi newborn kuning fisiologis yang tidak ada tanda-tanda dehidrasi, yang sebenarnya tak perlu disinar foto terapi, dan ada banyak artikel pembahasannya.

Sebagai seorang ibu yang baru melahirkan memang harusnya kita waspada pada tanda-tanda bayi kuning yang perlu penanganan khusus atau biasa disebut kuning patologis. Pembahasan tentang inipun juga sudah banyak bersliweran dan detil sekali tanda-tandanya.

Kesedihan saya sebenarnya justru tentang bagaimana penanganan kuning yang seharusnya fisiologis tapi makin kesini makin mudah sekali divonis harus disinar dengan fototerapi di RS tanpa pendampingan bagi si Ibu agar tetap bisa menyusui dan atau memberikan ASI pasca bayi disinar.

Padahal keputusan penyinaran di RS ini artinya memisahkan ibu dan bayi yang beresiko awal kegagalan menyusui seorang Ibu, terutama jika RS nya tidak pro ASI. Dan kalaupun pro ASI, ibu tidak diperkenankan menyusui langsung, sementara jika dipompa belum bisa banyak.

Bagaimana mau banyak? Lha wong emang baru lahir ASI emang belum banyak sedangkan pihak RS menargetkan jumlah tertentu ASIP yang harus tersedia karena memang penyinaran membuat bayi lebih cepat haus dan butuh banyak minum. Akhirnya bingung cari donor ASI. Jika tidak, sufor menanti. Hal ini mudah sekali membuat seorang new busui makin down dan galau dengan kondisi bayinya.

Memang tidak semua terjadi seperti itu, tapi saya hanya menyampaikan fakta yang terjadi dari sekian banyak ibu baru yang konsultasi dengan saya ataupun yang kontak admin Human Milk for Human Babies untuk mendapatkan donor ASI.

Jadi sebenarnya bagaimanakah cara untuk mengetahui bahwa seorang bayi newborn itu mengalami kuning yang fisiologis dan bagaimana agar para ibu muda tidak galau dan bisa bersabar untuk tetap menyusui bayinya?

Dari yang saya baca dan pengalaman diri pribadi serta beberapa klien, beberapa tanda kuning fisiologis itu :

• kuning lebih dr 24 jam pasca lahir (kalau patologis kurang dari 24 jam)

• bayi masih mau menyusu dan aktif

• tidak ada tanda2 dehidrasi berupa demam, pipis sedikit dan warna pekat, pup berwarna pucat ( abu2/putih)

• kuning tidak sampai telapak tangan dan kaki.

Jika tanda-tanda tersebut ada, maka yang harus dilakukan adalah tenang, susui terus, jemur sinar matahari jika memungkinkan dan saaabaaarrr karena bayi yang mendapatkan asi eksklusif memang akan lebih lama kuningnya, yang disebut breastfeeding jaundice, bahkan ada yg sampe 2-3 bulan baru hilang kuningnya.

Hal ini penjelasannya panjang, bisa kok googling sendiri. Tapi gampangnya dalam bahasa kasih ibu itu begini:

Bayi baru lahir organ tubuhnya bernama hati/lever yang bertugas mengeluarkan birilubin ke usus (yang selanjutnya akan dikeluarkan berupa tinja/pup) masih belum matang /belum berfungsi dengan sempurna sehingga birilubinnya tinggi dan terjadi kuning. Dalam asi terdapat #ZatLaktasif yang dapat membantu pengeluaran kotoran tersebut lebih bersih.

Namun dalam ASI juga mengandung zat yang dapat mengurangi kemampuan lever bayi untuk mengatasi kadar Bilirubin dalam tubuhnya. Meski begitu bayi tetap harus mendapatkan ASI dan tidak perlu dihentikan karena hanya ASI yang dapat membantu kerja usus mengeluarkan sisa kotoran dengan cepat dan sempurna.

Makanya harus S A B A R. Dan sebenarnya kalau mau mantep, yakini bahwa semua itu adalah sunatullah. #Alloh sudah membuatnya seperti itu, proses tumbuh kembang bertahap dan sangat indah sebenarnya. Jangan galau dan yakinkan diri bahwa Alloh menjamin rizki tiap makhluk, salah satunya tentu bayi lengkap dengan ASI dalam payudara ibunya. Makanya ayo bolak-balik baca dan resapi makna Al Quran Surat Huud ayat 6 :

۞ وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).

Selain itu, cara lain yg cukup ampuh adalah sharing atau curhat! Bisa dengan konselor ASI terdekat atau ke para ibu komunitas ASI yang mungkin punya pengalaman yang sama, karena dukungan dari sekitar kita juga ampuh untuk mengusir kegalauan.

Jadi, jika menurut bunda tanda tanda kuning fisiologis di atas memang tidak sesuai dan mengkhawatirkan, lakukan tes birilubin utk memastikan dan menegakkan diagnosa. Jika memang tinggi (diatas 15mg/dL yang saya yakini, karena ada yang meyakini ga boleh diatas 12-14mg/dL), sinar fototerapi bisa dilakukan.

Selanjutnya bagaimana jika memang harus disinar dengan fototerapi dan harus berpisah dengan bayi?

Sebenarnya di sinilah pentingnya pendampingan dari nakes atau konselor ASI agar ibu tetap bisa menyusui atau memberikan ASIP terutama pasca disinar.

Entah bayi mendapatkan donor ASI ataupun terpaksa sufor saat disinar, maka usahakan si Ibu tetap diperkenankan menyusui langsung dan tinggal bersama bayi di RS. Meski jarang sekali tapi ada kok RS yang bersedia meski pastinya lebih repot karena keluar masukkan bayi dari box sinar saat jam menyusui.

Jika ibu tak bisa menyusui langsung, maka yakinkan diri bahwa dia harus tetap merangsang produksi ASI yang mungkin jumlahnya memang belum banyak karena memang baru beberapa hari paska melahirkan produksi ASI didominasi kolostrum dan tubuh masih penyesuaian dgn hormon kehamilan yg mulai meluruh dan digantikan hormon asi secara bertahap. (Tentang berapa lama durasi kolostrum diproduksi, sudah pernah dibahas di page ini.Silakan scroll ke bawah untuk lebih lengkapnya).

Cara merangsangnya dengan diperah memakai tangan atau dengan pompa asi yang rekomended, lebih baik lagi jika dilakukan massage pada payudara terlebih dahulu tiap 2-3 jam selama 10-15 menit masing2 payudara.

Pastikan pula pemberian ASIP ketika di RS tidak menggunakan dot agar tidak bingung puting. Terus lakukan hal ini hingga bayi selesai disinar dan diijinkan pulang. Selanjutnya ketika dirumah fokuslah untuk menyusui langsung bayi sambil perbanyak skin to skin agar moment perpisahan sementara dengan bayi selama disinar beserta efek tambahannya akan berlalu dan tergantikan oleh moment baru indahnya menyusui seiring peningkatan produksi asi.

Semoga makin banyak ibu muda yg gak gampang galau lagi ya, dan apresiasi saya teruntuk para nakes yang dengan sabarnya mendampingi dan mengedukasi mereka untuk tenang, sabar dan tetap sukses menyusui dalam menghadapi kuning pada bayinya.

Dan buat setiap orang yang baca ini, mari niatkan diri untuk menjadi salah satu pendamping dan pendukung para ibu muda menghadapi kegalauannya, karena dukungan Anda akan berperan penting dlm kesuksesan seorang ibu menyusui sang penerus generasi yg menjadi tanggung jawab kita bersama.

•┈┈┈◎❅❀❦🌸❦❀❅◎┈┈┈•

Dt Aqiqah melayani pemesanan Aqiqah untuk aqiqah bandung raya, Aqiqah kota bandung, aqiqah kota cimahi, aqiqah bandung barat, aqiqah bandung timur, siap antar sampai lokasi dan Gratis Ongkir untuk wilayah tertentu

Informasi layanan AQIQAH hubungi kami :

CS. 1 : 0813-1300-5300

CS. 2 : 081-313-488-488

2 thoughts on “BAYI KUNING, PERLUKAH DONOR ASI? | DT AQIQAH Daarut Tauhiid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *