BAHAYA SIKAP JUMUD TERHADAP RUH PERJUANGAN | DT AQIQAH Bandung

BAHAYA SIKAP JUMUD TERHADAP RUH PERJUANGAN

Sikap jumud membuat kita sulit menerima nasihat yang disampaikan dengan penuh kasih sayang sekalipun (tawâshau bil-marhamah). Dalam keadaan seperti ini, amar ma‘rûf nahi munkar bisa terhenti karena yang tua tidak bisa mendengar suara yang muda. Jika yang muda memiliki sikap takzim kepada yang tua, kebaikan insyâ Allâh masih bertebaran di dalamnya. Tetapi jika tidak segera disadari, situasi seperti ini dapat menyebabkan hilangnya sikap hormat dari yang muda kepada yang tua pada generasi berikutnya, yakni kelak ketika generasi ketiga memasuki masa dewasa, sementara generasi kedua menjalankan pola yang sama seperti yang pernah mereka jumpai.
Mereka menjalankan pola yang sama, tetapi dengan penghayatan yang rendah atas apa yang seharusnya menjadi ruh perjuangan. Pada titik ini, generasi ketiga bisa berbalik menjadi berlebihan dalam menerima apa pun yang datang dari luar, bahkan yang nyata-nyata bertentangan dengan nashsh kitabullah sekalipun.
Alhasil, generasi ketiga justru menjadi perusak perjuangan generasi pertama. Na‘ûdzubillâhi min dzâlik.
Apa yang salah sebenarnya? Banyak sebab yang bisa kita runut, banyak kemungkinan yang dapat kita catat. Salah satunya adalah karena kita terjebak pada bentuk, lupa kepada yang prinsip. Atau sebaliknya kita menyibukkan diri dengan prinsip, tetapi mengabaikan bentuk. Kita tidak belajar secara utuh atas generasi terdahulu, sehingga kita lupa menyiapkan anak-anak kita memasuki masa depan. Bisa terjadi, kita bahkan tidak dapat membaca masa depan. Kita sibuk menjadi manusia masa lalu dan memaksa anak-anak kita untuk menjadi manusia masa lalu. Padahal ‘Ali bin Abi Thalib mengingatkan agar kita mendidik anak-anak untuk sebuah zaman yang bukan zaman kita. Kata ‘Ali bin Abi Thalib karramallâhu wajhah, “Jangan paksakan anakmu untuk menjadi seperti kamu, karena ia diciptakan bukan untuk zaman kamu.”
Di antara bentuk-bentuk pemaksaan adalah hilangnya kesediaan kita memahami anak-anak. Setiap kali ada masalah, kita rujukkan pada masa lalu, “Dulu bapak begini juga bisa.” Atau, “Ah, dulu orangtua kita tidak pakai macammacam juga bisa berhasil.” Kita lupa bahwa sekalipun prinsip-prinsip yang berjalan pada suatu zaman selalu sama, tetapi bentuknya bisa berubah-ubah. Kalau tidak kita siapkan mereka menghadapi bentuk tantangan yang sesuai dengan zamannya, mereka bisa gagap mengantisipasi perubahan. Akibat berikutnya bisa tragis; mereka menjadi manusia kolot yang tidak memahami prinsip dengan baik dan tidak mampu memetakan bentuk persoalan yang sedang terjadi, atau sebaliknya mereka kehilangan rasa hormat kepada yang tua sehingga mereka berkata, “Ah, apa itu orangtua …! Gagasan mereka semuanya usang!”
Mereka yang seperti ini, tidak bisa membedakan mana yang tetap dan mana yang berubah, serta mana yang pasti dan mana yang praduga. Mereka memutlakkan apa yang ijtihâdiyyah, sehingga pada gilirannya muncul generasi yang menisbikan semua perkara, bahkan yang jelas-jelas tetap dan mutlak.
Dalam bentuk yang lebih ringan, pintu ijtihad dibuka selebar-lebarnya, meskipun terhadap orang yang tidak memiliki kualifikasi sama sekali. Atau sebaliknya, melahirkan generasi yang tertutup pikirannya, kaku sikapnya, dan beku gagasannya. Seakan-akan agama ini telah menutup pintu bagi ijtihâd.
Di antara sebab-sebab tidak munculnya generasi yang tanggap terhadap perubahan zaman tanpa hanyut di dalamnya, adalah tidak sejalannya dakwah dan jihad dengan pendidikan dan penyiapan generasi. Dakwah berjalan tanpa perencanaan pendidikan yang matang sehingga kehilangan visi dan kepekaan menghadapi gejala zaman. Sementara pendidikan berjalan tanpa arah yang jelas dan “ruh” yang kuat, sehingga mudah terpengaruh oleh tepuk tangan, pemberitaan di koran atau pujian orang-orang yang tulus maupun mereka yang menikam secara halus dengan memuji. Kita mendidik anak-anak untuk kita lihat hasilnya hari ini, bukan untuk mempersiapkan mereka menantang masa depan seperti wasiat ‘Ali bin Abi Thalib. Akibatnya, gemerlapnya prestasi hari ini tidak memberi bekal apa-apa bagi mereka untuk menciptakan masa depan.
Sebaliknya, mereka menjadi orang yang hanya menyongsong masa depan atau bahkan digilas oleh masa depan.
Agar perjuangan tidak mati, atau terhenti justru oleh anak-anak kita sendiri, ada yang perlu kita renungkan dari ayat ini. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, Tidaklah sepatutnya bagi orang-orang Mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama, dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, supaya mereka dapat menjaga dirinya (Al-Taubah [9]: 122).

SUMBER : BUKU POSITIVE PARENTING Oleh Mohammad Fauzil Adhim

WA ADmin : bit.ly/InfoPaket-DT-AQIQAH

Instagram DT AQIQAH

Facebook DT AQIQAH

Youtube DT AQIQAH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *