AYAH DAN BUNDA, YUK SEMANGATI ANAK KITA, JANGAN MALAH BEBANI MEREKA | DT AQIQAH Bandung

AYAH DAN BUNDA, YUK SEMANGATI ANAK KITA, JANGAN MALAH BEBANI MEREKA

Tahukah Ayah dan Bunda bedanya mengejar anjing dan dikejar anjing? Keduanya sama- sama menguras tenaga, tetapi berbeda akibatnya bagi jiwa dan pada akhirnya bagi badan. Saat kita mengejar anjing, energi baru akan muncul ketika kita melihat anjing itu lewat di hadapan kita. Energi yang semula hilang karena mati- matian berlari, terasa memenuhi seluruh rongga badan kita kembali saat binatang yang luput dari kejaran kita itu tampak berkelebat. Ia menghadirkan semangat selagi tujuan kita masih kuat atau kita merasa cukup memiliki kemampuan untuk mengejarnya.

Tetapi kondisi psikis yang sama tidak kita miliki kalau yang terjadi sebaliknya. Kita dikejar anjing. Bukan mengejar. Barangkali baru lima meter kita berlari, rasanya lunglai seluruh badan kita. Lemas tak berdaya. Kita perlu waktu cukup lama untuk memulihkan kembali energi yang hilang. Begitu pula kesiapan emosi kita untuk bertindak, perlu pemanasan untuk bisa kembali cepat tanggap. Kecuali jika anjing itu menyalak lagi mengejar kita, maka kesanggupan berusaha akan muncul lagi, meski tak seberapa. Sekadar menyelamatkan diri dari ancaman.

Anak-anak kita juga demikian. Kalau semangat yang kita tanamkan kepadanya, maka ia akan senantiasa memiliki energi dan kesegaran untuk mengejar anjing yang bernama cita-cita. Tetapi kalau ia kita paksa untuk meraih sesuatu yang kita harapkan mereka miliki, maka kitalah yang menjadi anjing penjaga itu. Anak- anak kita belajar bukan karena haus ilmu, melainkan karena takut kepada kita.

Kalau kita tidur, tidur pula semangat anak untuk belajar. Kalau kita pergi, pergi pula kemauannya untuk berbuat baik. Ia menjadi robot dari keinginan kita yang menanti saat untuk berontak atau justru, sebaliknya, menjadi orang yang tidak punya gairah sama sekali. Tak ada yang menyenangkan baginya selain makan. Bahkan makan pun boleh jadi tak menyenangkan baginya. Ini mungkin gambaran yang terlalu ekstrem. Tetapi jangan katakan tidak ada, meski saya berharap itu tidak terjadi pada keluarga kita.

Saya berdoa, semoga atas setiap letih lelah kita mengasuh mereka di waktu kecil, kelak Allah ‘Azza wa Jalla akan memberikan kepada kita kemurahan dan kasih sayang di surga- Nya. Tak ada cita-cita yang lebih mengharukan bagi orangtua terhadap anaknya, kecuali berharap agar mereka kelak menjadi anak-anak saleh yang mendoakan (waladun shâlihun yad‘u lah). Karenanya, sudah seharusnya kita memberi perhatian yang lebih banyak kepada apa yang dapat mengantarkan mereka menuju kesalehan.

Kita sentuh hatinya, sehingga hiduplah akal pikirannya. Bukan menyibukkan dengan banyaknya pengetahuan yang mereka serap. Sementara terhadap jiwa mereka, kita lupa menghidupkannya.
Saya teringat dengan Dr. Marian C. Diamond, peneliti otak milik Einstein. Setelah mempelajari otak milik mendiang Albert Einstein, Dr. Diamond mencoba memahami lebih jauh dengan melakukan berbagai percobaan terhadap tikus. Mulanya dia memberi pengayaan lingkungan, kemudian mencoba melakukan eksperimen yang berbeda. Dr. Diamond meneliti dua kelompok tikus.

Satu kelompok memperoleh pengayaan emosional, yakni mendapat perhatian yang penuh kasih sayang. Dr. Diamond menemukan bahwa ketika dia memberikan sentuhan kasih itu, mereka menunjukkan tanda-tanda fisik akan perbaikan fungsi sistem limbik mereka. Karena itu, mengacu pada percobaan ini, pengayaan secara mental dapat memberikan kepada kita kapasitas fisik yang lebih luas bagi kecerdasan intelek dan emosi. Begitu dijelaskan dalam buku Belajar Cerdas: Belajar Berbasiskan Otak terbitan MLC, Bandung.
Ada sejumlah penelitian lain yang menyerupai hasil percobaan Dr. Diamond. Kali ini penelitiannya terhadap manusia. Bukan tikus. Ringkasnya, pengayaan secara mental akan meningkatkan kapasitas fisik kecerdasan kita dan anak-anak kita. Peningkatan kapasitas mental memungkinkan mereka memiliki kecerdasan cair yang lebih tinggi.

Apa itu kecerdasan cair? Rumusannya begini, “Kecerdasan cair adalah ukuran efisiensi kerja otak bukan ukuran jumlah fakta yang tersimpan di dalamnya.” Seorang anak boleh jadi tahu banyak, tetapi ia tidak dapat memanfaatkan pengetahuan yang ada di otaknya. Ia dapat mempelajari, katakanlah kimia karbon, di usia yang sangat belia. Tetapi, ia tidak mengambil manfaat darinya. Pengetahuannya tentang kimia karbon menjadi tumpukan pengetahuan yang mati, sehingga menjadi kotoran data (data smog) dalam otaknya.
Pengayaan mental akan meningkatkan kapasitas fisik kecerdasan anak-anak kita. Peningkatan kapasitasnya memungkinkan anak-anak memiliki kecerdasan cair (kecerdasan berdasarkan ukuran efisiensi kerja otak, bukan berdasarkan ukuran jumlah fakta yang tersimpan di dalamnya) yang lebih tinggi.

Terlepas dari beberapa penelitian di atas, maka memang seharusnya peran orangtua adalah menyemangati anak-anaknya dengan sepenuh hati agar menjadi waladun shâlihun atau anak yang sholeh. Yuk mulai terapkan dari sekarang juga Ayah dan Bunda 😊

SUMBER : BUKU POSITIVE PARENTING Oleh Mohammad Fauzil Adhim

 

WA ADmin : bit.ly/InfoPaket-DT-AQIQAH

Instagram DT AQIQAH

Facebook DT AQIQAH

Youtube DT AQIQAH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *