AYAH DAN BUNDA, TERAPILAH EMOSI ANAK | DT AQIQAH Bandung

AYAH DAN BUNDA, TERAPILAH EMOSI ANAK


Pada fase pertama, anak memiliki keistimewaan emosional baik pada perkara penting maupun sepele. Di antara perkara penting yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
1) Takut.
Di antara kesalahan fatal yang dilakukan oleh kebanyakan orang tua adalah menakut-nakuti anak dengan kegelapan atau pencuri misalnya. Ini adalah perkara yang salah. Tidak seharusnya ditakut-takuti seperti itu, karena akan berdampak buruk. Hal itu akan menyebabkan gangguan kejiwaan, mengompol, depresi dan kelabilan. Justru semestinya menciptakan suasana aman ketika bersama kita dan mengaitkan perasaan takut hanya kepada Allah saja.

2) Marah
Terkadang anak marah kepada ayah dan ibunya. Di antara bentuk ekspresi dari kemarahan itu bisa dengan tidak mau makan. Pemicunya bisa jadi hinaan dan kritik. Kemarahan seperti ini tidak termasuk kedurhakaan, karena pada fase ini mereka belum mumayiz (Belum dapat membedakan antara kebenaran dengan keburukan yang sederhana). Jika putra dan putri anda marah, tinggalkan dia dan jangan ditanggapi. Merupakan kesalahan besar memenuhi segala keinginannya hanya karena kemarahannya. Yang semestinya adalah menjelaskan kepadanya mengenai kesalahannya dengan cara yang sederhana ketika dia sudah mulai tenang.
Kita juga mesti mendidik anak kita jika kita marah. Kita akan marah jika berhubungan dengan hak-hak Allah. Raut wajah akan berubah jika melihat kemungkaran yang tidak bisa diubah baik dengan lisan ataupun tangan. Orang yang bisa menahan amarahnya, maka akan dijanjikan surga baginya, sesuai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

عَنْ اَبِى الدَّرْدَاءِ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، دُلَّنِيْ عَلَى عَمَلٍ يُدْخِلُنِى اْلجَنَّةَ. قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ تَغْضَبْ. وَ لَكَ اْلجَنَّةُ. الطبرانى فى الاوسط رقم

Dari Abu Darda’, ia berkata : Ada seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ya Rasulullah, tunjukkanlah kepada saya atas suatu amal yang bisa memasukkan saya ke surga”. Rasulullah SAW bersabda, “Jangan marah, maka bagimu surga”.
[HR. Thabarani dalam Al-Ausath no 2353]

Contoh Praktis Dan Kisah Dalam Hal Ini

1. Abdul aziz Ibn Marwan mengutus putranya, Umar ke Madinah untuk belajar adab. Ia menugaskan pengajarannya kepada Solah Ibn Kaisan dengan kesepakatan harus melaksanakan shalat. Suatu hari Umar terlambat shalat, sehingga ditanya oleh Solah:
“Apa yang membuatmu terlambat?” “Tukang sisirku menyisiriku.” Jawabnya.
“Hanya menyisir rambut sampai mengganggu shalatmu?” Ungkap Solah kesal. Solah pun menulis surat kepada ayahnya. Sehingga ayahnya mengirim
utusan dan tidak berbicara sampai menggunduli rambut Umar putra khalifah. (Siar a’lam an-Nubala 5/116)

3) Kecemburuan
Cemburu merupakan salah satu sifat yang melekat dalam jiwa. Ada anak berkata: “Ayah lebih sayang kepada adik bungsuku…” Itu merupakan gambaran kecemburuan. Kedua orang tua mestilah memperhatikan sisi ini dengan perhatian yang besar, dengan cara memberikan setiap anak hak-haknya tanpa membeda-bedakan satu dengan yang lain. Agar tidak lahir permusuhan dan kedengkian di antara mereka.
Pada dasarnya cemburu merupakan perasaan terkombinasi antara perasaan senang untuk berkuasa (unggul) dan perasaan benci (marah). Terkadang perasaan cemburu pada diri seseorang itu disertai dengan perasaan benci (marah), baik terhadap dirinya sendiri ataupun terhadap rekan-rekannya yang mampu mewujudkan tujuan-tujuan mereka, sementara dia tidak mapu mewujudkannya.
Untuk menangani perasaan cemburu dan menjaganya dari dampak-dampak negatif, upaya-upaya yang hendaknya dilakukan antara lain:
a) Mengetahui sebab-sebab dan juga penanganannya.
Membuat sang anak bisa merasakan nilai (harga) diri dan juga keberadaannya ditengah-tengah keluarga, sekolah, dan diantara teman-temannya.
b) Membiasakan anak untuk ikut serta dalam mencintai anak/orang lain.
Mengajarkan kepada anak sejak kecil bahwa hidup itu menerima dan memberi, dan sesungguhnya wajib bagi setiap manusia untuk menghormati hak-hak orang lain.
c) Membiasakan anak dalam persainan yang sehat, dengan bersikap sportif terhadap orang lain.
d) Membangkitkan rasa percaya diri dalam jiwa anak dan meringankan ketajaman perasaan dengan kekurangan ataupun kelemahan pada dirinya.
e) Mewujudkan hubungan-hubungan yang ditegakkan dengan pondasi kebersamaan dan keadilan, tanpa membeda-bedakan ataupun melebihkan atas yang lain, apapun itu jenis kelaminnya, usia, ataupun kemampuan. Jangan memfavoritkan dan jangan pula mengistimewakan, akan tetapi pergaulilah dengan sama.
f) Membiasakan anak untuk bisa menerima keunggulan dan juga kekalahan. Yaitu berusaha mewujudkan keberhasilan dengan mencurahkan dengan segala kesungguhan, tanpa harus merasa cemburu dengan keunggulan anak lain atas dirinya, sehingga dapat mencegahnya dari kehilangan rasa percaya diri.
g) Membiasakan anak yang egois untuk menghormati, menghargai, serta memberikan rasa simpati terhadap sebuah kebersamaan. Dan juga menyertakan anak tersebut dalam berbagai permainan dan peralatan yang dimilikinya.
h) Hendaknya orangtua bersikap teguh terhadap hal-hal yang berkaitan dengan perasaan cemburu pada diri anak. Tidak menampakkan kegoncangan dan juga perhatian yang berlebihan terhadap perasaan-perasaan tersebut. Dan tidak mengabaikan anak yang pasif, dimana perasaan-perasaan cemburu tidak nampak pada dirinya.

Sumber : Buku 30 Langkah Mendidik Anak Agar Mengamalkan Ajaran Agama, Oleh Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi

SUMBER : GenerasiBacaParenting

WA ADmin : bit.ly/InfoPaket-DT-AQIQAH

Instagram DT AQIQAH

Facebook DT AQIQAH

Youtube DT AQIQAH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *