AYAH DAN BUNDA, BISA JADI NASIHAT KITA JARANG DITERIMA KARENA KURANG LEMAH LEMBUTNYA KITA

tempat aqiqah dibandung, jasa aqiqah di bandung, rumah aqiqah di bandung,
layanan aqiqah di bandung, rekomendasi tempat aqiqah di bandung, paket aqiqah murah di bandung,
layanan domba aqiqah di bandung, harga paket aqiqah di bandung

Hukum asal pengasuhan adalah dengan kelemahlembutan. Kendati demikian, orang tua harus tetap tegas dan melarang anak dari sesuatu yang membahayakan dirinya. Begitulah Nabi shallallahu „alaihi wa sallam mengajarkan kita untuk menggabungkan TARGHIB (motivasi, hadiah dan pujian) dan TARHIB (ancaman dan hukuman) dalam pengasuhan.
Islam mengajarkan untuk bersikap pertengahan; tidak represif dan tidak pula permisif. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam menjadi orang yang paling dicintai anak-anak karena kelemahlembutan, namun di sisi lain beliau juga yang menganjurkan untuk menggantungkan cambuk di rumah. Mendidik dan mengajar anak, sejatinya merupakan sebuah usaha kita dalam amar ma‟ruf nahi munkar. Oleh karenanya, kita sebagai orang tua harus tahu rukun-rukunnya. Ibnu Taimiyyah rahimahullahu menerangkan bahwa ada 3 rukun dalam amar ma‟ruf nahi munkar yaitu: Al Ilmu (berilmu), Ar Rifqu (lemah-lembut) dan Ash Shobru (sabar).
Lemah-lembut menjadi rukun, sesuatu yang harus ada dalam dunia pengasuhan. Dengan kelemahlembutan, membuat anak menjadi dekat dan merasa nyaman dengan orang tuanya. Betapa kita merasa sedih, melihat sebagian anak lebih nyaman dengan pembantunya daripada dengan ibunya. Bisa jadi nasihat kita jarang diterima karena kurang lemah lembutnya kita. Mari belajar dari para nabi yang penuh dengan kelembutan ketika memberi nasehat untuk anak-anak kita. Para nabi mengajarkan kita untuk berlaku lemah lembut yang ditandai dengan sapaan hangat yang penuh dengan kedekatan. Semisal Nabi Ibrahim „alaihissalam menyapa anaknya dalam surat Ash Shoffat : 102,
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ
“Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” (QS. Ash Shoffat : 102)
Sebagaimana pula Nabi Ya‟qub „alaihissalam hal yang senada dalam surat Yusuf : 5
قَالَ يَٰبُنَىَّ لَا تَقْصُصْ رُءْيَاكَ عَلَىٰٓ إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا۟ لَكَ كَيْدًا ۖ إِنَّ ٱلشَّيْطَٰنَ لِلْإِنسَٰنِ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
“Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan)mu.” (QS. Yusuf : 5) Sebagaimana juga dengan Nabi Nuh „alaihissalam mencontohkan demikian dalam surat Hud : 42,
وَهِىَ تَجْرِى بِهِمْ فِى مَوْجٍ كَٱلْجِبَالِ وَنَادَىٰ نُوحٌ ٱبْنَهُۥ وَكَانَ فِى مَعْزِلٍ يَٰبُنَىَّ ٱرْكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ ٱلْكَٰفِرِينَ
“Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir”. (QS. Hud : 42) Kata “Anak” dalam bahasa Arab, biasa disebut dengan “Ibnun”. Kemudian kata ini diubah dengan bentuk TASGHIR, yang menujukkan makna tadlil – keakraban-. Sapaan “Yaa Bunayya” adalah di antara sapaan yang penuh dengan kelemahlembutan dan kehangatan.
Pengasuhan yang terlalu represif, selalu dibumbui dengan amarah dan minim apresiasi, memang pada awalnya akan membuat anak mudah terkondisikan. Namun, perasaan anak kelak akan terakumulasi dan tidak menutup kemungkinan sang anak akan membalas dan melakukan perlawanan, sebab tabiatnya orang tua yang suka marah sedikit banyak akan terwariskan pula pada anaknya.

Sumber : Kitab Rakaiz Fii Tarbiyatil Abna

Instagram DT AQIQAH

Facebook DT AQIQAH

Youtube DT AQIQAH

Share this:

WhatsApp chat