ANAK MERUPAKAN KEWAJIBAN YANG PALING PENTING DAN BESAR

Sesungguhnya “anak-anak” adalah diantara kewajiban yang paling penting dan besar, sekaligus amanah yang mulia, yang mana seorang hamba wajib untuk memberi perhatian di dalam kehidupannya untuk membimbing, mendidik, menasihati dan memberikan nilai pembelajaran kepada anakanaknya. Anak-anak adalah amanah yang begitu penting, yang Allah perintahkan untuk senantiasa memberikan perhatian dan menjaganya. Orang yang beriman tentu akan perhatian pada amanah yang ditujukan untuknya. Sebagaimana firman Allah tatkala menyebutkan sifat orang yang beriman :
وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ
“Dan orang-orang yang mereka jika diberi amanatamanat dan janji kepada mereka, mereka menjaganya.” (Al Mukminun : 8)
Allah juga berfirman :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَخُونُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ وَتَخُونُوٓا۟ أَمَٰنَٰتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, Janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul, dan jangan pula mengkhianati amanah-amanah kalian, sedang kalian mengetahui.” (QS. Al Anfal : 27)
Bersamaan dengan status anak-anak sebagai karunia yang istimewa bagi segenap orang tua, sebagaimana yang Allah sebutkan dalam firman-Nya :
لِّلَّهِ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ ۚ يَهَبُ لِمَن يَشَآءُ إِنَٰثًا وَيَهَبُ لِمَن يَشَآءُ ٱلذُّكُورَ
“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan kepada siapa yang Dia kehendaki (yaitu) anak-anak perempuan. Dan Dia memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Asy Syura : 49).
Anak-anak juga dijadikan Allah sebagai amanah bagi orang tua, yang mereka dituntut untuk menunaikan hak anak dan melaksanakan kewajibannya. Sederhananya, anak-anak yang Allah karuniakan itu adalah ujian bagi para orang tua. Jika para orang tua menunaikan amanahnya dengan baik terhadap anaknya sebagaimana yang Allah telah perintahkan, maka ada pahala yang besar dan ganjaran yang berlimpah untuk mereka di sisi Allah ta‟ala. Sebaliknya, jika mereka melalaikan amanah tersebut, maka mereka telah menyingkap hukuman bagi diri mereka, sesuai dengan kadar kelalaian mereka. Allah ta‟ala berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya batu dan manusia. Di dalamnya ada malaikat yang siksaannya begitu keras.” (QS. At Tahrim : 6)
Ayat ini adalah dasar yang penting berkaitan dengan kewajiban memberi perhatian pada anakanak, untuk serius mengajar dan mendidiknya. Tatkala menjelaskan ayat ini, Khalifah Ali bin Abi Thalib menuturkan, “Ajari mereka ilmu dan didiklah mereka.”2 Perintah untuk mendidik dan mengajarkan anak ditegaskan pula oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan menjelaskan peran orang tua :
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban. Seorang imam adalah pemimpin, dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin di keluarganya, dan ia bertanggung jawab atas keluarga yang dipimpinnya. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya, dan ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya.”
Seorang pelayan adalah pemimpin terhadap harta milik tuannya dan ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Masing-masing kalian adalah pemimpin, dan akan bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengatakan “لُٕ سئ ْي “ َsebagai peringatan berupa pertanyaan yang akan Allah sampaikan kepada seorang hamba tentang amanah untuk mendidik anak tatkala mereka berdiri pada hari kiamat. Sebagian ahli ilmu bahkan mengatakan, “Sesungguhnya Allah akan terlebih dahulu bertanya kepada orang tua pada hari kiamat, sebelum bertanya bagaimana (sikap) anak terhadap orang tuanya.

Sumber : Kitab Rakaiz Fii Tarbiyatil Abna

Share this:

WhatsApp chat